PDA

View Full Version : Belajar Menabung dari Kecil Dari Celengan sampai ke Bank


moon
19th January 2009, 02:45 PM
Ini merupakan pengalaman murid saya dan saya saat masih mengajar di sebuah Tk di Depok, Jawa Barat, dua tahun lalu. Semoga bermanfaat!

Mata Leni tampak berbinar. Gadis kecil yang masih berusia 5,5 tahun itu tersenyum-senyum sendiri sambil memeluk sepatu roda yang baru dibelinya. Dia sangat bahagia. Keinginannya memiliki sepatu roda sudah ada sejak dia melihat sepupunya, Oien, yang punya lebih dulu. Wah..asyik kali’ya punya sepatu roda. Kalau sepeda mini, itu sudah biasa dan Leni sudah punya. Tapi ini sepatu roda, agak lain dari biasa. Diatasnya, Leni bisa berjalan cepat dengan gerak roda-rodanya yang berputar. Dengan mengenakannya, bocah imut itu sudah membayangkan dirinya menari-nari sambil berjalan kesana-kemari dengan lincahnya. Akhirnya setelah memendam hampir 2 tahun, Leni memiliki sepatu roda idamannya itu!

Lebih membanggakan, dia dapat membeli sepatu roda itu dari hasil tabungannya sendiri. Saat itu, harga sepatu rodanya Rp 375.000. Harga yang cukup besar untuk anak seusia dirinya. Dengan tekad bulat, sedikit demi sedikit dia menyisihkan uang jajan tiap harinya, uang pemberian kakeknya tiap minggu dan uang angpau dari Lebaran tahun lalu untuk ditabung.

Keinginan Leni sebenarnya bisa saja langsung terwujud. Tinggal minta mama dan papanya, dan..‘Ting!!..sepatu roda sudah di tangan. Hanya saja orang tuanya tidak mengajarkan Leni untuk gampang meminta. Sejak Leni sudah bisa berkomunikasi, bermain, dan mulai tertarik untuk memiliki sesuatu, dia diperkenalkan dengan tabungan. Leni sudah menabung sejak usia 3 tahun!

Awalnya, mama dan papa mengenalkan Leni bahwa keduanya punya celengan. Mama punya celengan babi, dan papa punya celengan ayam. Lalu Leni dibelikan celengan sapi. Celengan-celengan tersebut terbuat dari kaleng. Ukurannya tidak besar namun sangat menarik. Celengan sapi gemuk berwarna putih dengan bercak-bercak hitam besar seperti sapi betulan. Bibir tebalnya merah merekah, dengan kalung pita pink dan bel dilehernya. Lucu’ya? Leni kecil sangat menyukai celengan sapi miliknya itu. Celengan babi, ayam dan sapi itu masing-masing mempunyai kunci dan gembok kecil. Kunci-kunci celengan tersebut disimpan mama di suatu tempat, sehingga mereka tidak tergoda dan mudah untuk mengambil isi celengan tersebut.

Kemudian, mama dan papa Leni menunjukkan padanya bagaimana mereka suka memasukkan uang kedalamnya. Mulai dari Rp 100, 200, 500, 1.000, 5.000, 10.000 sampai Rp 20.000. Mulai dari uang logam sampai uang kertas. Setiap hari, mama dan papa Leni mencontohkannya. Mereka memberikan Rp 500 setiap hari pada Leni untuk dimasukkan ke dalam celengan sapinya. Celengan yang berbunyi ’kring..’kring..’kring yang kurang nyaring menandakan uang yang ditabung cukup banyak dan penuh.

Setiap akhir bulan, mama dan papa mengajak Leni untuk membuka gembok semua celengan tersebut. Mereka menghitung bersama-sama berapa isi celengan babi, ayam dan sapi. Kemudian mencatatnya di sebuah buku yang mereka sebut ‘Buku Tabungan’. Esoknya, mama mengajak Leni untuk pergi ke bank yang letaknya dekat dengan kantornya di wilayah Jakarta Selatan. Oleh mama, uang hasil tabungan celengan mereka dimasukkan ke buku rekening tabungan masing-masing. Leni punya buku tabungan sendiri’loh! Karena usianya masih minim, tentu buku tabungannya itu atas nama dia yang dijaminkan oleh mamanya.


Demikian orang tua Leni mengajarkan anaknya tentang menabung sejak dini. Leni kecil yang kini sudah duduk di bangku Sekolah Dasar kelas 2 itu jadi tidak asing lagi dengan menabung. Dari tabungannya itu, Leni pernah membeli boneka Barbie kesukaannya dan komik Lamira dari seri 1 hingga 25! Wah..tentu kebanggannya jadi dua kali lipat. Selain dia punya barang-barang yang disukainya, Leni juga bangga karena mampu membeli dari hasil tabungannya sendiri.

Saat masih di bangku Taman Kanak-kanak (TK) saja, Leni sudah mampu mengajak teman-temannya di sekolah untuk menabung. Dia mengusulkan kepada saya sebagai guru kelasnya untuk mengajarkan dia dan murid yang lain tentang pentingnya menabung. Gagasan Leni tersebut kemudian disetujui saat rapat guru, dan jadilah saya sebagai koordinator kegiatan menabung di sekolah. Saya tidak ingin pembelajaran menabung ini cuma diajarkan sekilas, melainkan harus berkelanjutan dan menjadi salah satu tema pembelajaran.

Saat pembukaan tema pembelajaran ´Yuk Menabung!´ tersebut, saya sengaja mengundang Kepala Cabang BTN cabang Sawangan, Depok, Bapak Hudi dan rekannya dari bagian pemasaran untuk menjadi guru tamu. Kebetulan bank tersebut masih satu komplek dengan lingkungan sekolah kami. Mereka disambut hangat oleh semua guru, murid-murid kami yang masih berusia 3 hingga 6 tahun, dan beberapa orang tua murid yang turut hadir. Pak Hudi dan rekannya memberikan pengarahan kepada kami pentingnya menyisihkan uang untuk ditabung. Menurutnya, menabung merupakan salah satu langkah mengajarkan anak untuk hidup berhemat dan mandiri sejak dini. ”Semua bisa mempunyai tabungan sendiri. Mulai dari menabung di celengan, nah..nanti kalau sudah banyak boleh dimasukkan ke bank,” jelas Pak Hudi.

Untuk para orang tua, Pak Hudi memberikan penjelasan tentang berbagai produk tabungan yang ada di BTN. Mereka juga menjelaskan prosedur bagaimana bila anak mereka ingin mempunyai buku rekening tabungan sendiri. Ternyata mudah´loh! Orang tua tinggal memberikan jaminan foto kopi KTP atas namanya, dan buku rekening tabungan dapat diatasnamakan anaknya masing-masing. Itu saja.

Pembahasan perlunya menabung sejak kecil itu dikemas sedemikian rupa, duduk santai di rerumputan halaman sekolah sambil dihibur panggung boneka, tari dan bernyanyi bersama tentang menabung. Kemudian kegiatan ditutup dengan kreatifitas membuat celengan dari bekas kotak kardus susu yang dihias dengan kertas origami berwarna-warni. Celengan kreasi tersebut diberi nama anak pembuatnya dan dipajang di etalase kelas.

Setiap hari mereka menabung, mulai dari Rp 200 hingga 2000 ke celengannya masing-masing. Lalu tiap akhir bulan, saya dan guru kelas yang lain memimpin murid-murid kami dalam menghitung tabungan mereka dan mencatatnya. Setelah itu kami bersama-sama ke BTN untuk menabungnya disana. Setiap murid bisa menabung di celengan hingga Rp 20.000/bulan. Bahkan orang tua mereka dengan antusias memberi tambahan bila celengan anaknya tidak mencapai angka tersebut, sehingga semua dapat menyetorkan ke bank tiap bulan sesuai aturan yang berlaku .

Di BTN, anak-anak dapat belajar bagaimana sistem dan proses kerja bank pada umumnya. Mereka dapat mengetahui bagaimana prosedur menabung, mengambil uang, memindahkan uang antar tabungan, cara bertransaksi di Anjungan Tunai Mandiri atau ATM, dan sebagainya. Selain itu, mereka juga mengenal berbagai profesi yang ada di bank, mulai dari kepala cabang bank, staf teller, costumer service, hingga satpam dan polisi.

Saya berharap cerita pengalaman saya ini dapat menjadi inpirasi buat yang lain untuk menumbuhkan kebiasaan menabung sejak kecil kepada anak-anak kita. Baik anda sebagai orang tua, guru, divisi promosi bank, dan siapapun anda. Dengan mengenalkan menabung, sekaligus kita juga mengenalkan mereka bagaimana hidup mandiri, berhemat dan cerdas mengatur keuangan sejak dini.

Mulailah dari mengenalkan anak-anak kita menabung di celengan. Dari celengan dilanjutkan kemudian pengenalan menabung di bank. Nilai nominal tabungan tidak perlu dituntut berlebihan, terpenting sesuai dengan minimal yang diberlakukan setiap bank.

Semoga kita dapat melahirkan generasi-generasi Leni lainnya.@

Winawita
20th January 2009, 08:04 AM
anakku jg udah aku biasakan nabung dari kecil. Pertama nabung umur 3 tahun lebih, umur 4 tahun dia udah bisa kereta api mainan dari tabungannya sendiri, harganya Rp. 100.000 lebih. Sampai sekarang dia masih nabung tuch.........

:)

Win
anak-anaktercinta (http://anak-anaktercinta.blogspot.com/)