valentin
5th February 2009, 10:19 PM
Lakukan Selagi Ada Waktu
Semuanya itu disadari John pada saat dia termenung seorang diri,
menatap kosong keluar jendela rumahnya. Dengan susah payah ia mencoba
untuk memikirkan mengenai pekerjaannya yang menumpuk. Semuanya sia-
sia belaka.
Yang ada dalam pikirannya hanyalah perkataan anaknya Magy di
suatu sore sekitar 3 minggu yang lalu. Malam itu, 3 minggu yang lalu
John membawa pekerjaannya pulang. Ada rapat umum yang sangat penting
besok pagi dengan para pemegang saham. Pada saat John memeriksa
pekerjaannya, Magy putrinya yang baru berusia 2 tahun datang menghampiri,
sambil membawa buku ceritanya yang masih baru. Buku baru bersampul hijau
dengan gambar peri. Dia berkata dengan suara manjanya,
"Papa lihat!"
John menengok kearahnya dan berkata, "Wah, buku baru ya?" "Ya Papa!"
katanya berseri-seri, "Bacain dong!" "Wah, Ayah sedang sibuk sekali,
jangan sekarang deh", kata John dengan cepat sambil mengalihkan
perhatiannya pada tumpukan kertas di depan hidungnya. Magy hanya berdiri
terpaku disamping John sambil memperhatikan.
Lalu dengan suaranya yang lembut dan sedikit dibuat-buat mulai merayu kembali "Tapi mama bilang
Papa akan membacakannya untuk Magy".
Dengan perasaan agak kesal John menjawab: "Magy dengar, Papa sangat
sibuk. Minta saja Mama untuk membacakannya". "Tapi Mama lebih sibuk
daripada Papa" katanya sendu. "Lihat Papa, gambarnya bagus dan lucu."
"Lain kali Magy, sana! Papa sedang banyak kerjaan." John berusaha
untuk tidak memperhatikan Magy lagi. Waktu berlalu, Magy masih berdiri kaku
disebelah Ayahnya sambil memegang erat bukunya. Lama sekali John
mengacuhkan anaknya. Tiba-tiba Magy mulai lagi "Tapi Papa, gambarnya
bagus sekali dan ceritanya pasti bagus! Papa pasti akan suka". "Magy,
sekali lagi Ayah bilang: Lain kali!" dengan agak keras John membentak
anaknya. Hampir menangis Magy mulai menjauh, "Iya deh, lain kali ya Papa,
lain kali". Tapi Magy kemudian mendekati Ayahnya sambil menyentuh lembut
tangannya, menaruh bukunya dipangkuan sang Ayah sambi berkata
"Kapan saja Papa ada waktu ya, Papa tidak usah baca untuk Magy, baca
saja untuk Papa. Tapi kalau Papa bisa, bacanya yang keras ya, supaya
Magy juga bias ikut dengar". John hanya diam.
Kejadian 3 minggu yang lalu itulah sekarang yang ada dalam
pikiran John. John teringat akan Magy yang dengan penuh pengertian
mengalah. Magy yang baru berusia 4 tahun meletakkan tangannya yang mungil
di atas tangannya yang kasar mengatakan: "Tapi kalau bisa bacanya
yang keras ya Pa, supaya Magy bisa ikut dengar". Dan karena itulah John
mulai
membuka buku cerita yang diambilnya, dari tumpukan mainan Magy di
pojok ruangan.
Bukunya sudah tidak terlalu baru, sampulnya sudah mulai usang dan koyak.
John mulai membuka halaman pertama dan dengan suara parau mulai
membacanya. John sudah melupakan pekerjaannya yang dulunya amat
sangat penting. Ia bahkan lupa akan kemarahan dan kebenciannya
terhadap
pemuda mabuk yang dengan kencangnya menghantam tubuh putrinya di jalan
depan rumah. John terus membaca halaman demi halaman sekeras
mungkin, cukup keras bagi Magy untuk dapat mendengar dari tempat
peristirahatannya yang terakhir. Mungkin...
Lakukan sesuatu untuk seseorang yang anda kasihi sebelum
terlambat, karena sesal kemudian tidak akan ada gunanya lagi....
Lakukan
sesuatu yang manis untuk orang-orang yang kamu kasihi dengan waktu
yang anda punya......."
http://i249.photobucket.com/albums/gg204/ManinderLotey/ANIMATION12.gif
Semuanya itu disadari John pada saat dia termenung seorang diri,
menatap kosong keluar jendela rumahnya. Dengan susah payah ia mencoba
untuk memikirkan mengenai pekerjaannya yang menumpuk. Semuanya sia-
sia belaka.
Yang ada dalam pikirannya hanyalah perkataan anaknya Magy di
suatu sore sekitar 3 minggu yang lalu. Malam itu, 3 minggu yang lalu
John membawa pekerjaannya pulang. Ada rapat umum yang sangat penting
besok pagi dengan para pemegang saham. Pada saat John memeriksa
pekerjaannya, Magy putrinya yang baru berusia 2 tahun datang menghampiri,
sambil membawa buku ceritanya yang masih baru. Buku baru bersampul hijau
dengan gambar peri. Dia berkata dengan suara manjanya,
"Papa lihat!"
John menengok kearahnya dan berkata, "Wah, buku baru ya?" "Ya Papa!"
katanya berseri-seri, "Bacain dong!" "Wah, Ayah sedang sibuk sekali,
jangan sekarang deh", kata John dengan cepat sambil mengalihkan
perhatiannya pada tumpukan kertas di depan hidungnya. Magy hanya berdiri
terpaku disamping John sambil memperhatikan.
Lalu dengan suaranya yang lembut dan sedikit dibuat-buat mulai merayu kembali "Tapi mama bilang
Papa akan membacakannya untuk Magy".
Dengan perasaan agak kesal John menjawab: "Magy dengar, Papa sangat
sibuk. Minta saja Mama untuk membacakannya". "Tapi Mama lebih sibuk
daripada Papa" katanya sendu. "Lihat Papa, gambarnya bagus dan lucu."
"Lain kali Magy, sana! Papa sedang banyak kerjaan." John berusaha
untuk tidak memperhatikan Magy lagi. Waktu berlalu, Magy masih berdiri kaku
disebelah Ayahnya sambil memegang erat bukunya. Lama sekali John
mengacuhkan anaknya. Tiba-tiba Magy mulai lagi "Tapi Papa, gambarnya
bagus sekali dan ceritanya pasti bagus! Papa pasti akan suka". "Magy,
sekali lagi Ayah bilang: Lain kali!" dengan agak keras John membentak
anaknya. Hampir menangis Magy mulai menjauh, "Iya deh, lain kali ya Papa,
lain kali". Tapi Magy kemudian mendekati Ayahnya sambil menyentuh lembut
tangannya, menaruh bukunya dipangkuan sang Ayah sambi berkata
"Kapan saja Papa ada waktu ya, Papa tidak usah baca untuk Magy, baca
saja untuk Papa. Tapi kalau Papa bisa, bacanya yang keras ya, supaya
Magy juga bias ikut dengar". John hanya diam.
Kejadian 3 minggu yang lalu itulah sekarang yang ada dalam
pikiran John. John teringat akan Magy yang dengan penuh pengertian
mengalah. Magy yang baru berusia 4 tahun meletakkan tangannya yang mungil
di atas tangannya yang kasar mengatakan: "Tapi kalau bisa bacanya
yang keras ya Pa, supaya Magy bisa ikut dengar". Dan karena itulah John
mulai
membuka buku cerita yang diambilnya, dari tumpukan mainan Magy di
pojok ruangan.
Bukunya sudah tidak terlalu baru, sampulnya sudah mulai usang dan koyak.
John mulai membuka halaman pertama dan dengan suara parau mulai
membacanya. John sudah melupakan pekerjaannya yang dulunya amat
sangat penting. Ia bahkan lupa akan kemarahan dan kebenciannya
terhadap
pemuda mabuk yang dengan kencangnya menghantam tubuh putrinya di jalan
depan rumah. John terus membaca halaman demi halaman sekeras
mungkin, cukup keras bagi Magy untuk dapat mendengar dari tempat
peristirahatannya yang terakhir. Mungkin...
Lakukan sesuatu untuk seseorang yang anda kasihi sebelum
terlambat, karena sesal kemudian tidak akan ada gunanya lagi....
Lakukan
sesuatu yang manis untuk orang-orang yang kamu kasihi dengan waktu
yang anda punya......."
http://i249.photobucket.com/albums/gg204/ManinderLotey/ANIMATION12.gif