INDAH FASHION
22nd June 2009, 09:25 AM
[Share]..Bagus untuk di renungkan
"winasari_mahruzar
Sun Jun 21, 2009 3:57 am (PDT)
Tentang Seorang Pembunuh Cilik
Keadilan Indonesia
Oleh : Reza Gardino
Terus terang, meski sudah beberapa kali mengadakan penelitian Kriminal
di LP, pengalaman kali ini adalah pengalaman pertama saya ngobrol
langsung dengan seseorang yang didakwa kasus pembunuhan berencana.
Dengan jantung dag dig dug, pikiran saya melayang-layang mengira-ngira
gambaran orang yang akan saya temui. Sudah terbayang muka keji hanibal
lecter, juga penjahat-penjahat berjenggot palsu ala sinetron, dan
gambaran-gambaran pembunuh berdarah dingin lain yang sering saya temui
di cerita TV.
Well, akhirnya setelah menunggu sekian lama berharap-harap cemas, salah
satu sipir membawa seorang anak kehadapan saya.Yup, benar seorang anak
berumur 8 tahun. Tingginya tidak lebih dari pinggang orang dewasa
dengan wajah yang diliputi senyum malu-malu. Matanya teduh dengan
gerak-gerik yang sopan.
Saya pun membaca berkas kasusnya yang diserahkan oleh sipir itu.
Sebelum masuk penjara ternyata ia adalah juara kelas di sekolahnya,
juara menggambar, jago bermain suling, juara mengaji dan azan di
tingkat kanak-kanak. Kemampuan berhitungnya lumayan menonjol. Bahkan
dari balik sekolah di dalam penjara pun nilai sekolahnya tercatat kedua
terbesar tingkat provinsi. Lantas kenapa ia sampai membunuh? Dengan
rencana pula?
Kasus ini terjadi ketika Arif sebut saja nama anak ini begitu, belum
genap berusia tujuh tahun. Ayahnya yang berdagang di sebuah pasar di
daerah bekasi, dihabisi kepala preman yang menguasai daerah itu. Latar
belakangnya karena si ayah enggan membayar uang 'keamanan' yang begitu
tinggi. Berita ini rupanya sampai di telinga Arif. Malam esok harinya
setelah ayahnya dikebumikan ia mendatangi tempat mangkal preman
tersebut. Bermodalkan pisau dapur ia menantang orang yang membunuh
ayahnya.
"siapa yang bunuh ayah saya!" teriaknya kepada orang yang ada di tempat itu.
"Gue terus kenapa?" ujar kepala preman yang membunuh ayahnya sambil disambut gelak tawa di belakangnya.
Tanpa banyak bicara anak kecil itu sambil melompat menghunuskan pisau
ke perut si preman. Dan tepat mengenai ulu hatinya, pria berbadan besar
itu jatuh tersungkur ke tanah. Arif pun langsung lari pulang ke rumah
setelahnya. Akhirnya selesai sholat subuh esok paginya ia digelandang
ke kantor polisi.
"Arif nih sering bikin repot petugas di Lapas!" ujar kepala lapas yang
ikut menemani saya mewawancarai arif sambil tersenyum. Ternyata sejak
di penjara dua tahun lalu. Anak ini sudah tiga kali melarikan diri dari
selnya. Dan caranya pun menurut saya tergolong ajaib.
Pelarian pertama dilakukannya dengan cara yang tak terpikirkan
siapapun. Setiap pagi sampah-sampah dari Lapas itu di jemput oleh mobil
kebersihan.
Sadar akan hal ini, diam-diam Arif menyelinap ke dalam salah satu
kantung sampah. Hasilnya 1-0 untuk Arif. Ia berhasil keluar dari
penjara.
Pelarian kedua lebih kreatif lagi. Anak yang doyan baca ini pernah
membaca artikel tentang fermentasi makanan tape (ingat loh waktu
wawancara usianya baru 8 tahun). Dari situ ia mendapat informasi bahwa
tape mengandung hawa panas yang bersifat destruktif terhadap benda
keras. Kebetulan pula di Lapas anak ini disediakan tape uli dua kali
dalam seminggu. Setiap disediakan tape, arif selalu berpuasa karena
jatah tape itu dibalurkannya ke dinding tembok sel tahanannya. Hasilnya
setelah empat bulan, tembok penjara itu menjadi lunak seperti tanah
liat. Satu buah lubang berhasil dibuatnya. 2-0 untuk arif. Ia keluar
penjara ke dua kalinya.
Pelarian ke tiganya dilakukan ala Mission Imposible. Arif yang ditugasi
membersihkan kamar mandi melihat ember sebagai sebuah solusi. Besi yang
berfungsi sebagai pegangan ember itu di simpannya di dalam kamarnya.
Tahu bahwa dirinya sudah diawasi sangat ketat, Arif memilih tempat
persembunyian paling aman sebelum memutuskan untuk kabur. Ruang kepala
Lapas menjadi pilihannya. Alasannya jelas, karena tidak pernah satu pun
penjaga berani memeriksa ruangan ini. Ketika tengah malam ia menyelinap
keluar dengan menggunakan besi pegangan ember untuk membuka pintu dan
gembok. Jangan tanya saya bagaimana caranya, pokoknya tahu-tahu ia
sudah di luar. 3-0 untuk Arif.
Lantas kenapa ia bisa tertangkap lagi? Rupanya kepintaran itu masih
berada di sebuah kepala bocah. Pelarian-pelarianny a didorong dari rasa
kangennya terhadap ibunya. Anak ini keluar dari penjara hanya untuk ke
rumah sang ibunda tercinta. Jadi dari Lapas tanggerang ia
menumpang-numpang mobil omprengan dan juga berjalan kaki sekian
kilometer dengan satu tujuan, pulang!
Karena itu pula pada pelarian Arif yang ketiga, kepala Lapas yang juga
seorang ibu ini meminta anak buahnya untuk tidak segera menjemput Arif.
Hasilnya dua hari kemudian Arif kembali lagi ke lapas sambil membawa surat untuk kepala Lapas yang ditulisnya sendiri.
Ibu kepala Arif minta maaf, tapi Arif kangen sama ibu Arif. Tulisnya singkat.
Seorang anak cerdas yang harus terkurung dipenjara. Tapi, saya tidak
lantas berpikir bahwa ia tidak benar-benar bersalah dan harus
dibebaskan. Bagaimanapun juga ia telah menghilangkan nyawa seseorang.
Tapi saya hanya berandai-andai jika saja, polisi bertindak cepat
menangkap pembunuh si ayah (secepat polisi menangkap si Arif) pastinya
saat ini anak pintar dan rajin itu tidak akan berada di tempat seperti
ini. Dan kreativitasnya yang tinggi itu bisa berguna untuk hal yang
lain. Sayangnya si Arif itu cuma anak pedagang sayur miskin sementara
si preman yang dibunuhnya selalu setia menyetor kepada pihak berwajib
setempat. Itulah yang namanya keadilan Indonesia !
cheers,
Wina Mahruzar
"winasari_mahruzar
Sun Jun 21, 2009 3:57 am (PDT)
Tentang Seorang Pembunuh Cilik
Keadilan Indonesia
Oleh : Reza Gardino
Terus terang, meski sudah beberapa kali mengadakan penelitian Kriminal
di LP, pengalaman kali ini adalah pengalaman pertama saya ngobrol
langsung dengan seseorang yang didakwa kasus pembunuhan berencana.
Dengan jantung dag dig dug, pikiran saya melayang-layang mengira-ngira
gambaran orang yang akan saya temui. Sudah terbayang muka keji hanibal
lecter, juga penjahat-penjahat berjenggot palsu ala sinetron, dan
gambaran-gambaran pembunuh berdarah dingin lain yang sering saya temui
di cerita TV.
Well, akhirnya setelah menunggu sekian lama berharap-harap cemas, salah
satu sipir membawa seorang anak kehadapan saya.Yup, benar seorang anak
berumur 8 tahun. Tingginya tidak lebih dari pinggang orang dewasa
dengan wajah yang diliputi senyum malu-malu. Matanya teduh dengan
gerak-gerik yang sopan.
Saya pun membaca berkas kasusnya yang diserahkan oleh sipir itu.
Sebelum masuk penjara ternyata ia adalah juara kelas di sekolahnya,
juara menggambar, jago bermain suling, juara mengaji dan azan di
tingkat kanak-kanak. Kemampuan berhitungnya lumayan menonjol. Bahkan
dari balik sekolah di dalam penjara pun nilai sekolahnya tercatat kedua
terbesar tingkat provinsi. Lantas kenapa ia sampai membunuh? Dengan
rencana pula?
Kasus ini terjadi ketika Arif sebut saja nama anak ini begitu, belum
genap berusia tujuh tahun. Ayahnya yang berdagang di sebuah pasar di
daerah bekasi, dihabisi kepala preman yang menguasai daerah itu. Latar
belakangnya karena si ayah enggan membayar uang 'keamanan' yang begitu
tinggi. Berita ini rupanya sampai di telinga Arif. Malam esok harinya
setelah ayahnya dikebumikan ia mendatangi tempat mangkal preman
tersebut. Bermodalkan pisau dapur ia menantang orang yang membunuh
ayahnya.
"siapa yang bunuh ayah saya!" teriaknya kepada orang yang ada di tempat itu.
"Gue terus kenapa?" ujar kepala preman yang membunuh ayahnya sambil disambut gelak tawa di belakangnya.
Tanpa banyak bicara anak kecil itu sambil melompat menghunuskan pisau
ke perut si preman. Dan tepat mengenai ulu hatinya, pria berbadan besar
itu jatuh tersungkur ke tanah. Arif pun langsung lari pulang ke rumah
setelahnya. Akhirnya selesai sholat subuh esok paginya ia digelandang
ke kantor polisi.
"Arif nih sering bikin repot petugas di Lapas!" ujar kepala lapas yang
ikut menemani saya mewawancarai arif sambil tersenyum. Ternyata sejak
di penjara dua tahun lalu. Anak ini sudah tiga kali melarikan diri dari
selnya. Dan caranya pun menurut saya tergolong ajaib.
Pelarian pertama dilakukannya dengan cara yang tak terpikirkan
siapapun. Setiap pagi sampah-sampah dari Lapas itu di jemput oleh mobil
kebersihan.
Sadar akan hal ini, diam-diam Arif menyelinap ke dalam salah satu
kantung sampah. Hasilnya 1-0 untuk Arif. Ia berhasil keluar dari
penjara.
Pelarian kedua lebih kreatif lagi. Anak yang doyan baca ini pernah
membaca artikel tentang fermentasi makanan tape (ingat loh waktu
wawancara usianya baru 8 tahun). Dari situ ia mendapat informasi bahwa
tape mengandung hawa panas yang bersifat destruktif terhadap benda
keras. Kebetulan pula di Lapas anak ini disediakan tape uli dua kali
dalam seminggu. Setiap disediakan tape, arif selalu berpuasa karena
jatah tape itu dibalurkannya ke dinding tembok sel tahanannya. Hasilnya
setelah empat bulan, tembok penjara itu menjadi lunak seperti tanah
liat. Satu buah lubang berhasil dibuatnya. 2-0 untuk arif. Ia keluar
penjara ke dua kalinya.
Pelarian ke tiganya dilakukan ala Mission Imposible. Arif yang ditugasi
membersihkan kamar mandi melihat ember sebagai sebuah solusi. Besi yang
berfungsi sebagai pegangan ember itu di simpannya di dalam kamarnya.
Tahu bahwa dirinya sudah diawasi sangat ketat, Arif memilih tempat
persembunyian paling aman sebelum memutuskan untuk kabur. Ruang kepala
Lapas menjadi pilihannya. Alasannya jelas, karena tidak pernah satu pun
penjaga berani memeriksa ruangan ini. Ketika tengah malam ia menyelinap
keluar dengan menggunakan besi pegangan ember untuk membuka pintu dan
gembok. Jangan tanya saya bagaimana caranya, pokoknya tahu-tahu ia
sudah di luar. 3-0 untuk Arif.
Lantas kenapa ia bisa tertangkap lagi? Rupanya kepintaran itu masih
berada di sebuah kepala bocah. Pelarian-pelarianny a didorong dari rasa
kangennya terhadap ibunya. Anak ini keluar dari penjara hanya untuk ke
rumah sang ibunda tercinta. Jadi dari Lapas tanggerang ia
menumpang-numpang mobil omprengan dan juga berjalan kaki sekian
kilometer dengan satu tujuan, pulang!
Karena itu pula pada pelarian Arif yang ketiga, kepala Lapas yang juga
seorang ibu ini meminta anak buahnya untuk tidak segera menjemput Arif.
Hasilnya dua hari kemudian Arif kembali lagi ke lapas sambil membawa surat untuk kepala Lapas yang ditulisnya sendiri.
Ibu kepala Arif minta maaf, tapi Arif kangen sama ibu Arif. Tulisnya singkat.
Seorang anak cerdas yang harus terkurung dipenjara. Tapi, saya tidak
lantas berpikir bahwa ia tidak benar-benar bersalah dan harus
dibebaskan. Bagaimanapun juga ia telah menghilangkan nyawa seseorang.
Tapi saya hanya berandai-andai jika saja, polisi bertindak cepat
menangkap pembunuh si ayah (secepat polisi menangkap si Arif) pastinya
saat ini anak pintar dan rajin itu tidak akan berada di tempat seperti
ini. Dan kreativitasnya yang tinggi itu bisa berguna untuk hal yang
lain. Sayangnya si Arif itu cuma anak pedagang sayur miskin sementara
si preman yang dibunuhnya selalu setia menyetor kepada pihak berwajib
setempat. Itulah yang namanya keadilan Indonesia !
cheers,
Wina Mahruzar