INDAH FASHION
2nd September 2009, 11:41 AM
http://i589.photobucket.com/albums/ss335/IndahFashion/beduk_keraton_kasepuhan-150x150.jpg
Mengemis Bunyi Beduk Masjid Semarang
SEPENINGGAL Ki Pandan Arang, Kadipaten Semarang dipimpin oleh putra sulungnya: Raden Kaji, yang biasa disebut Pangeran Kasepuhan. Beda dari sang ayah yang seorang ulama, ia syahbandar yang kaya-raya. Harta berlimpah, menjadikan sang adipati lupa kepada Tuhannya
Ada sejumlah versi cerita tentang kealpaan Adipati Semarang ini. Antara lain menurut penggubah Serat Kandaning Ringgit Purwa Naskah KBG Nr 7, Babad Demak Edisi RL Mellema, Babad Nagri Semarang, S Moendisoero, dan DA Rinkes. Kisah yang dipapar berikut ini adalah versi Babad Demak Edisi RL Mellema.
Alkisah, Adipati Semarang yang meski kaya, senantiasa ingin melipatgandakan hartanya. Ia gemar menimbun baranguntuk dijual kembali ketika harganya sudah lebih mahal. Suatu hari, Adipati turun ke pasar untuk memborong wudon, atau barang yang tak laku dari pedagang.
Di salah satu sudut pasar, ia melihat seorang pedagang rumput alang-alang. Merasa tertarik, Adipati menanyakan harganya kepada sang penjual. Dijawab: “Harga alang-alangku sepikul 25 keteng, tidak boleh ditawar.�
Karena dirasa murah, Adipati Semarang segera membayarnya. Ia juga berpesan, kalau masih punya yang lain diminta diantar ke rumah. Penjual alang-alang menyanggupi. Ia berjanji akan mengantarnya keesokan hari, pagi-pagi.
Bungkusan Uang Sepulang dari pasar, Adipati memerintahkan hamba sahayanya membongkar alang-alang. Benda itu hendak dipakai untuk membuat atap kandang kuda.
Namun saat dibuka, di dalamnya ditemukan bungkusan berisi uang 25 keteng, milik penjual rumput. Dasar sifat Adipati, uang itu tak hendak dikembalikan. Ia bahkan merasa beruntung, membeli barang tanpa kehilangan uang.
Keesokan hari, penjual rumput memenuhi janjinya mengantar sepikul alang-alang. Karena masih amat pagi, Adipati bertanya: “Apa rumahmu di dekat sini?� “Rumah hamba di Gunung Jabalkat. Hamba berangkat dari rumah dengan berjalan kaki,� jawab penjual rumput.
Adipati merasa heran karena tempat itu teramat jauh. Namun ia tak hendak bertanya lagi. Lelaki kaya dan berkuasa itu segera memberikan uang 25 keteng untuk alang-alang yang ia pesan. Tapi di luar dugaan, penjual rumput tak mau menerima. Kepada Adipati, ia justru mengungkapkan keinginan hatinya.
“Kalau diizinkan Tuhan, saya ingin mengemis kepada Tuan, seikhlas hati Tuan.�
Adipati mengambil uang seketeng dari kantong, lalu melemparkannya ke penjual rumput yang berjongkok di depan pendapa. Namun, penjual rumput membiarkannya begitu saja. “Hamba tidak mengemis harta, karena hamba tidak suka kekayaan. Jika diizinkan, hamba hanya meminta bunyi beduk Masjid Semarang�.
source :"S Dpia"
Mengemis Bunyi Beduk Masjid Semarang
SEPENINGGAL Ki Pandan Arang, Kadipaten Semarang dipimpin oleh putra sulungnya: Raden Kaji, yang biasa disebut Pangeran Kasepuhan. Beda dari sang ayah yang seorang ulama, ia syahbandar yang kaya-raya. Harta berlimpah, menjadikan sang adipati lupa kepada Tuhannya
Ada sejumlah versi cerita tentang kealpaan Adipati Semarang ini. Antara lain menurut penggubah Serat Kandaning Ringgit Purwa Naskah KBG Nr 7, Babad Demak Edisi RL Mellema, Babad Nagri Semarang, S Moendisoero, dan DA Rinkes. Kisah yang dipapar berikut ini adalah versi Babad Demak Edisi RL Mellema.
Alkisah, Adipati Semarang yang meski kaya, senantiasa ingin melipatgandakan hartanya. Ia gemar menimbun baranguntuk dijual kembali ketika harganya sudah lebih mahal. Suatu hari, Adipati turun ke pasar untuk memborong wudon, atau barang yang tak laku dari pedagang.
Di salah satu sudut pasar, ia melihat seorang pedagang rumput alang-alang. Merasa tertarik, Adipati menanyakan harganya kepada sang penjual. Dijawab: “Harga alang-alangku sepikul 25 keteng, tidak boleh ditawar.�
Karena dirasa murah, Adipati Semarang segera membayarnya. Ia juga berpesan, kalau masih punya yang lain diminta diantar ke rumah. Penjual alang-alang menyanggupi. Ia berjanji akan mengantarnya keesokan hari, pagi-pagi.
Bungkusan Uang Sepulang dari pasar, Adipati memerintahkan hamba sahayanya membongkar alang-alang. Benda itu hendak dipakai untuk membuat atap kandang kuda.
Namun saat dibuka, di dalamnya ditemukan bungkusan berisi uang 25 keteng, milik penjual rumput. Dasar sifat Adipati, uang itu tak hendak dikembalikan. Ia bahkan merasa beruntung, membeli barang tanpa kehilangan uang.
Keesokan hari, penjual rumput memenuhi janjinya mengantar sepikul alang-alang. Karena masih amat pagi, Adipati bertanya: “Apa rumahmu di dekat sini?� “Rumah hamba di Gunung Jabalkat. Hamba berangkat dari rumah dengan berjalan kaki,� jawab penjual rumput.
Adipati merasa heran karena tempat itu teramat jauh. Namun ia tak hendak bertanya lagi. Lelaki kaya dan berkuasa itu segera memberikan uang 25 keteng untuk alang-alang yang ia pesan. Tapi di luar dugaan, penjual rumput tak mau menerima. Kepada Adipati, ia justru mengungkapkan keinginan hatinya.
“Kalau diizinkan Tuhan, saya ingin mengemis kepada Tuan, seikhlas hati Tuan.�
Adipati mengambil uang seketeng dari kantong, lalu melemparkannya ke penjual rumput yang berjongkok di depan pendapa. Namun, penjual rumput membiarkannya begitu saja. “Hamba tidak mengemis harta, karena hamba tidak suka kekayaan. Jika diizinkan, hamba hanya meminta bunyi beduk Masjid Semarang�.
source :"S Dpia"