PDA

View Full Version : PERAHU KERTAS - Dewi Dee PART 2: Bulan, Perjalanan, Kita


ajiban
24th July 2008, 06:42 PM
PERAHU KERTAS - Dewi Dee

http://wap.xl. co.id/portal/

PART 2: Bulan, Perjalanan, Kita - Page 1
________________________________________

Page 1

Bandung, September 1999…
Dari kejauhan Kugy seketika bisa mengenali sosok itu. Tubuh yang menjulang tinggi dengan rambut melewati bahu yang diikat satu. Di punggungnya tergandul ransel merah marun dengan emblem huruf “K” warna hitam yang dijahit di tengah-tengah. Dia satu-satunya yang berambut gondrong di tengah anak-anak angkatan baru yang dipotong cepak karena opspek. Dia memilih tidak ikut opspek daripada kehilangan kuncirnya itu—satu-satunya peninggalan dari Amsterdam yang terbawa sampai ke Bandung, katanya begitu.
“Hey, Kay…”
“Hey… another Kay.” Keenan tertawa lebar sambil sekilas mengacak rambut Kugy. “Baru mandi, ya?”
Kugy langsung manyun. “Segitu kelihatannyakah?”
“Oh, jelas sekali. Rambut kamu masih basah, dan kamu kelihatan agak cemerlang dari biasa.”
Kugy manyun lagi. “Tumben aku ketemu kamu di kampus. Kalau bukan kita berempat punya ritual nonton midnight setiap Sabtu, kayaknya aku nggak akan ketemu kamu di mana-mana lagi. Sibuk, ya?”
Keenan menebarkan pandangannya ke sekitar, mengangkat bahu sekilas. “Aku di kampus hanya seperlunya aja. Nggak terlalu suka nongkrong-nongkrong .”
Dalam hati Kugy ingin berkata, pantas saja. Hampir setiap hari ia melewati fakultas Ekonomi, tempat Keenan berkuliah. Dan hampir setiap hari ia melongok untuk melihat keberadaan ransel merah marun bertuliskan huruf “K” itu. Kugy bahkan sempat curiga jangan-jangan Keenan sebetulnya kuliah lewat jalur universitas terbuka.
“Kalau makan siang di kampus—masih berminat?” tanya Kugy.
“Tergantung siapa yang ngajak.”
Kugy menggelengkan kepala, “Jawaban yang salah. Harusnya: tergantung siapa yang bayar.”
“Jadi, saya bakal ditraktir, nih?”
“Ada satu tempat makan yang wajib dijajal. Jangan ngaku anak kampus deh kalau belum pernah ke sana…”
“Enak banget, ya?”
“Bukan. Murah banget.”
“Oh. Pantesan nraktir…” gumam Keenan sambil mengekeh pelan.
***
Warung nasi dengan dinding bambu itu tampak padat. Orang-orang berderet memilih makanan yang disajikan prasmanan. Keenan berhenti sejenak untuk membaca plang yang tergantung di pintu: Warteg Pemadam Kelaparan.
Mereka lalu duduk di pojok dekat jendela, bersebelahan dengan pisang susu yang digantung bertumpuk.
Keenan sungguhan terpana melihat nasi yang menggunung sampai nyaris tumpah dari pinggiran piring Kugy. “Kecil-kecil makannya banyak juga, ya,” komentarnya.
“Menurut survei: selain narik becak, pekerjaan mengkhayal dan menulis ternyata juga butuh asupan kalori tinggi,” sahut Kugy, lalu mencabut dua pisang susu yang bergantung di sebelah kepalanya.
Keenan menatap adegan itu dengan decak kagum. “Kamu memang makhluk penuh kejutan.”
“Oh! Aku masih punya kejutan lain. Sebentar…” Kugy merogoh kantong depan ranselnya, “… ta-daaa!”
“Handphone?” Keenan memicingkan mata.
“Baru!” Kugy tertawa lebar, “Hasil keringat sendiri! Cerpenku dimuat. Honornya cukup buat beli hp baru dan traktir kamu makan siang sekarang.”
“Wah, kejutan baru lagi. Selamat, ya,” Keenan menyalami Kugy, “mau baca cerpennya, dong.”
Kugy tampak gelagapan. Mendadak ia merasa gugup. Sesungguhnya, salah satu alasan ia sering lewat-lewat fakultas Keenan adalah untuk memberikan majalah yang memuat cerpennya, yang sudah ia siapkan di dalam ranselnya dan ia bawa setiap hari. Kugy lalu membongkar tasnya dan menyerahkan majalah yang sudah agak ringsek itu. “Ini, aku sudah siapkan satu untuk kamu.”
Keenan menerimanya dengan mata berbinar. “Kugy Karmachameleon… jadi penulis betulan. Hebat.”
Kugy tergelak, “Aku memang sudah mengusulkan ke Mamaku untuk ganti nama jadi Karma. Tapi belum ada tanggapan.”
“Saya boleh kasih tahu kamu sesuatu? Menurut saya, kamu penulis yang sangat bagus.”
Muka Kugy memerah. “Baca aja belum, kok bisa bilang bagus…”
“Saya bukan ngomongin cerpen kamu, tapi dongeng-dongeng kamu.”
Mendadak Kugy merasa mati gaya. Mati langkah. Ia tersadar, satu hal langka telah terjadi: dirinya salah tingkah. Benar-benar tidak tahu harus merespons apa. Akhirnya Kugy mencomot satu lagi pisang susu. Mengunyahnya lahap.
“Kamu terakhir makan kapan, sih? Lapar berat, ya?”
“Aku suka lukisan-lukisan kamu.”
“Memangnya kamu udah lihat?”
“Belum. Justru itu. Belum lihat aja suka, apalagi kalau udah lihat,” Kugy terkekeh sendiri. Ia merasa wajahnya semakin panas, dan omongannya semakin ngaco.
“Kalau gitu, habis makan siang, kita ke tempatku, yuk. Aku akan kasih lihat beberapa lukisanku.”
Kugy mengangguk. Ada senyum spontan yang tak bisa ia tahan. Mendadak ia mensyukuri celetukan asalnya tadi. Mendadak ia ingin cepat-cepat menuntaskan makan siang ini.
***
Tempat kos Keenan terletak agak jauh dari kampus mereka. Sebuah rumah peninggalan zaman Belanda yang dikelilingi pepohonan rindang. Berbeda dengan tempat kos Kugy dan Noni yang padat, tempat kos Keenan hanya diisi oleh beberapa orang saja. Kamar-kamarnya berukuran luas dengan langit-langit yang tinggi.
Napas Kugy seketika tertahan ketika pintu besar itu terbuka dan Keenan menyalakan sakelar lampu. Rel-rel kawat bersaling silang di bawah plafon dengan lampu-lampu halogen kecil yang bergantungan, menerangi beberapa spot tempat lukisan-lukisan Keenan yang terpaku di dinding atau diberdirikan begitu saja di atas lantai. Kamar dengan ubin abu-abu itu tampak lengang karena tidak banyak perabot, hanya satu tempat tidur, lemari pakaian kecil yang di atasnya diletakkan sebuah mini compo, dan meja belajar besar tempat alat-alat gambar Keenan berjajar rapi.

ajiban
24th July 2008, 06:46 PM
PERAHU KERTAS - Dewi Dee

http://wap.xl. co.id/portal/

PART 2: Bulan, Perjalanan, Kita - Page 2
________________________________________

Page 2

“Nan… harusnya kamu bukan kuliah Manajemen, tapi Seni Rupa…” gumam Kugy sambil pelan-pelan melangkah masuk, “dan ini lebih pantas disebut galeri ketimbang kamar kos…”
Keenan membawa Kugy berkeliling melihat lukisan-lukisannya, seperti orang pameran. “Ini judulnya: Sunset from the Rooftop… ini judulnya: Heart of Bliss… yang ini: The Shady Morning… yang ini: Silent Confession… dan ini…”
“Yang ini yang paling aneh,” potong Kugy, menunjuk lukisan yang hanya seperti gradasi warna dan garis-garis halus seperti larik-larik kapas. “Yang lain ada gambar orangnya semua. Cuma ini yang nggak ada.”
“Tebak judulnya apa.”
“Gila, itu sih mission impossible, namanya. Mana mungkin ketebak.”
“Lukisan yang satu ini jangan dipikir, tapi harus dirasa. Apa perasaan yang muncul ketika kamu lihat lukisan ini? Itulah judulnya.”
Kugy menatap lukisan itu lekat-lekat. Lalu ia memejamkan mata. Lama. Lantas terdengar napasnya mengembus, dan setengah berbisik ia mengucap, “Bebas.”
Giliran Keenan yang terpaku. Perlahan, ia membalik lukisan yang berdiri di lantai itu, dan menunjuk judul yang tertera di baliknya.
Kugy melongo. “Freedom?”
“Sumpah… saya sama sekali nggak sangka kamu bisa menebak setepat itu,” Keenan garuk-garuk kepala, “ini kebetulan yang aneh.”
Kugy menggeleng, “Aku nggak percaya kebetulan. Ini pasti karena kita dulunya sama-sama utusan Neptunus. Waktu itu, kita dibekali telepati. Cuma, sebelum dikirim ke Bumi, kita dibikin amnesia. Supaya seru,” katanya mantap.
Keenan manggut-manggut. “Bisa jadi. Boleh juga teorinya.”
“Ehm, tapi untuk yang satu ini aku nggak mau menggunakan kemampuan telepati,” Kugy nyengir, “sebetulnya ini gambar apa, ya?”
“Lukisan ini menggambarkan sudut pandang seekor burung di angkasa saat terbang. Dia tidak melihat batas apa-apa, tidak melihat perintang apa-apa, tidak terikat oleh Bumi. Bebas. Total.”
Pandangan Kugy yang tadi melekat pada lukisan perlahan beralih pada Keenan, ia seperti tergerak untuk menanyakan sesuatu. “Boleh tahu kapan kamu melukisnya?”
“Waktu tahu saya lolos UMPTN.”
“Kamu… sebetulnya terpaksa kuliah di sini, ya?” ucap Kugy hati-hati. Tidak yakin apakah pertanyaan itu pantas ditanyakan, tapi mulutnya seperti tak bisa ditahan.
Keenan menatap Kugy balik, terbersit senyum getir di wajahnya. “Nggak matching,” ujarnya pendek, “antara minat, cita-cita, dan keinginan orang tua. Harus membuktikan bahwa saya bisa mandiri lewat melukis, sementara kesempatannya tidak pernah dikasih.” Ia lalu mengangkat bahu, “Mungkin harus dengan cara yang kamu bilang dulu. Berputar menjadi sesuatu yang bukan kita, demi bisa menjadi diri kita lagi.”
Ingatan Kugy kembali ke momen di kamar kosnya dulu. Barulah ia mengerti, sesungguhnya waktu itu Keenan membicarakan dirinya sendiri. Dan kesunyian yang sama kembali membungkus mereka.
“Dan… karena kamu sudah berhasil menebak judul lukisan ini, saya mau kasih hadiah.” Air muka Keenan kembali menghangat.
“Nggak percaya kalau kita bisa telepati, ya? Aku tuh bukan nebak, tauk… tapi…” celotehan Kugy tahu-tahu berhenti. Di hadapannya terbentang lembar pertama buku sketsa yang dibuka Keenan. Perlahan, Kugy meraih buku itu. Membuka lembar demi lembar. “Ini…?”
Keenan menunjuk satu per satu sketsa tersebut. “Pangeran Lobak… Peri Seledri… Wortelina… Nyi Kunyit… Joni Gorong… Hopa-Hopi… dan ini lembah tempat mereka tinggal…” dengan asyik Keenan menjelaskan. Setetes air tiba-tiba jatuh di lembar sketsanya. Keenan kontan terdiam dan mendongak, mendapatkan Kugy yang sudah berlinangan air mata.
“Aduh. Maaf. Gambarnya kena, ya? Sori…” Kugy sibuk menyeka air mata di pipinya.
“Nggak pa-pa, nggak masalah, kok. Justru… kamu nggak pa-pa?” tanya Keenan khawatir.
Kugy terisak, antara ketawa dan menangis. “Hihi. Aku cengeng, ya? Tapi… seumur hidup belum pernah ada yang membuatkan ilustrasi buat dongengku… bagus banget lagi… aku… nggak tahu harus ngomong apa…”
Keenan tersenyum. “Cerita kamu yang bagus. Inspiratif. Makanya saya tergerak untuk bikin sketsa.”
“Ini… boleh aku pinjam dulu?” Kugy mendekap buku itu di dadanya dengan penuh harap.
“Buku itu buat kamu, Gy. Ambil aja.”
Tak ada yang bisa menahan Kugy untuk memeluk Keenan, tidak juga dirinya sendiri. Pelukan spontan itu hanya berlangsung dua detik karena Kugy langsung beringsut mundur dengan muka merah padam. “Makasih…” bisiknya nyaris tak terdengar.
Keduanya diam bergeming, antara rikuh dan tak tahu harus berbuat apa. Sampai akhirnya Kugy memecah kekakuan itu dengan merogoh saku celananya.
“Untuk sementara… aku cuma bisa kasih kamu ini.”
Keenan menerima benda yang disodorkan Kugy. Sebatang pisang susu yang dibawa dari Pemadam Kelaparan. “Oke. Aku anggap kita impas,” ucapnya sambil tersenyum kecil.


bersambung di page 3

ajiban
27th July 2008, 09:06 PM
PERAHU KERTAS - Dewi Dee

http://wap.xl. co.id/portal/

PART 2: Bulan, Perjalanan, Kita - Page 3
________________________________________

Page 3

Fiat kuning itu berdesakan dengan mobil-mobil lain yang menyusuri jalan Dago pada malam Minggu. Kugy dan Keenan di bangku belakang. Eko mengemudi, di sampingnya ada Noni yang tengah bertelepon dengan seseorang.
Noni mematikan ponselnya dengan lega. “Guys, Mas Ito berhasil dapat empat tiket, barisan agak depan, sih. Tapi lumayan daripada lu manyun.”
“Sebagai geng midnight yang profesional, kita memang harus punya koneksi kayak Mas Ito. Hidup Mas Ito!” seru Eko.
“Hidup!” Terdengar Kugy menyahut dari belakang.
Sepuluh menit kemudian, mobil itu memasuki parkiran Bandung Indah Plaza. Dan keempatnya pun langsung bergegas ke lantai paling atas.
Seorang pria kurus berkaca mata menyambut mereka. Mas Ito, penjaga toko kaset langganan Eko, dan suka menyambi menjadi pengantre tiket bioskop buat mereka.
“Ini buat Mas Eko sama Mbak Noni,” ia menyerahkan dua tiket, “nah, ini buat Mas Keenan dan pacarnya…”
Keempatnya saling berpandangan, lalu tertawa bersama. Mas Ito menerima honornya lalu berlalu dari sana, tanpa tahu apa yang membuat keempat anak itu tertawa.
“Gawat,” komentar Eko geli. “Gara-gara keseringan nonton midnight bareng, kita berempat nanti bisa jadi double date beneran.”
“Amin!” Terdengar Keenan menyahut dari belakang.
Empat-empatnya tertawa lagi. Tapi Kugy sedikit merasa terusik dengan celetukan itu. Diam-diam, ia melirik Keenan yang berjalan di sampingnya. Mencari sesuatu, mencari semacam petunjuk entah apa. Ia sendiri tak mengerti. Tahu-tahu Keenan meliriknya balik. Cepat-cepat Kugy membuang muka ke sembarang arah, menemukan mesin popcorn sebagai objek perhatian baru yang lebih aman.
“Mau popcorn, Gy?” Keenan bertanya.
Kugy merasa tak punya pilihan selain mengangguk.
“Ko, lu duluan aja. Gua beli popcorn dulu bareng Kugy,” kata Keenan pada Eko yang berjalan di depannya.
“Sip!” jawab Eko, ia pun melenggang menuju ruangan teater bersama Noni.
“Yuk,” Keenan berujar ringan pada Kugy, lalu menggandeng tangannya.
Kugy tak yakin apakah Keenan menyadari perubahan yang terjadi. Dalam hati, sungguh Kugy berharap langkahnya yang berubah tersendat dan otot tangannya yang berubah tegang tidak terdeteksi.
Jakarta, Oktober 1999…
Sudah cukup lama perempuan itu berdiri dekat pesawat telepon di ruang tamunya sendiri. Tangannya memegang sebuah buku telepon yang terbuka, jemarinya bergerak-gerak tanda gelisah. Kalau bukan demi sopan santun, sebetulnya aku tidak harus melakukan ini, pikirnya. Puluhan tahun telah berlalu, tapi tetap ia merasa hal ini tidak mudah. Sambil menelan ludah, akhirnya ia membulatkan tekad dan memencet tombol-tombol itu: 0-3-6-1…
“Halo, selamat sore.” Terdengar suara gadis remaja di ujung sana.
“Selamat sore. Bisa bicara dengan Pak Wayan? Ini dari Ibu Lena, Jakarta.”
Tak lama terdengar sayup suara gadis itu memanggil, “Poyaaan… ada telepon dari Jakartaaa…”
Telepon itu kembali diangkat dan kali ini terdengar suara lelaki menyapa.
“Wayan?” panggilnya hati-hati.
Sejenak sunyi. “Lena?” Suara lelaki itu terdengar tak yakin.
“Iya, ini Lena. Apa kabar?”
“Kabar baik. Tumben sekali kamu telepon.” Setiap kata dilontarkan dengan kaku.
“Aku mau bicara soal Keenan. Di liburan semesternya nanti, dia kepingin sekali pergi ke tempatmu di Ubud…”
“Keenan sudah lama bilang. Sejak waktu dia di Amsterdam, dia juga pernah meneleponku soal itu,” potong Wayan.
“Tapi aku tidak enak kalau tidak langsung minta izin sama kamu.”
“Keenan sudah kuanggap seperti anakku sendiri. Ini rumahnya juga. Kapan pun dia ingin ke mari, sudah pasti kuterima,” nada itu berubah tegas.
“Mudah-mudahan dia tidak akan merepotkan…”
“Keenan tidak pernah merepotkan. Seluruh keluargaku di sini malah senang kalau dia datang.” Lagi-lagi nada itu tegas memotong, seolah Wayan ingin percakapan itu cepat usai.
Lena menghela napas. “Terima kasih kalau begitu.”
“Cuma satu yang ingin aku pastikan. Ayahnya memberi izin Keenan ke mari, kan?”
“Sudah. Adri sudah kasih izin…”
“Oke. Tidak ada masalah lagi kalau begitu.”
Sunyi lagi. Lena pun tahu sudah saatnya pembicaraan itu disudahi.
Bandung, Oktober 1999…
Keenan menaiki anak tangga eskalator sekaligus dua-dua, menyusuli orang-orang yang berdiri diam di kanan-kiri, berusaha tiba di lantai paling atas secepat-cepatnya. Saat ia sampai, sudah ada Eko dan Noni berdiri sambil mengacungkan tiga lembar tiket bioskop.
“My man. Right on time. Pintu bioskopnya udah dibuka, tapi filmnya belum mulai, kok,” sambut Eko.
“Tenang. Minuman buat kamu udah aku beliin,” kata Noni, menunjukkan sekantong plastik berisi minuman kotak dan makanan ringan.
“Sori banget telat, ya. Tadi aku ketiduran,” ujar Keenan dengan napas yang masih terengah. Tiba-tiba ia tersadar sesuatu. Ada yang kurang di situ. “Si Kecil mana?”
“Kugy kedatangan tamu agung dari Jakarta. Biasaaa…” seloroh Noni.
Kening Keenan berkerut. “Tamu agung? Maksudnya?”
“Cowoknya dia, si Ojos, lagi ngapelin dia ke Bandung. Jadi nggak mungkinlah gabung sama geng midnight kita ini,” timpal Eko.
“Kalau Ojos sih pasti candle light dinner gitu, deh…”
“Iya. Satu-satunya kesempatan Kugy naik kasta dari Pemadam Kelaparan,” Eko terkekeh.
Keenan terdiam sejenak. “Gua baru tahu Kugy punya pacar. Di Jakarta?”
Noni mengangguk, “Pacarnya dari SMA.”
“Galak,” Eko menambahkan.
“Enggak, ah…” sanggah Noni.
“Ke semua teman ceweknya enggak. Ke semua teman cowoknya? Wuiiih… galakan Ojos daripada MENWA kampus.”

ajiban
27th July 2008, 09:07 PM
PERAHU KERTAS - Dewi Dee

http://wap.xl. co.id/portal/

PART 2: Bulan, Perjalanan, Kita - Page 4
________________________________________

Page 4

“Pengalaman pribadi, ya? Itu karena Ojos bisa mendeteksi, cowok-cowok mana yang diam-diam naksir Kugy, tauk,” ledek Noni sambil menoyor bahu Eko.
“Ungkit teruuuus!” Eko tergelak. “Berarti Ojos bukan cuma galak kayak MENWA, tapi juga sensi kayak herdernya polisi…”
Percakapan itu berlanjut terus hingga keduanya memasuki ruangan bioskop, dan Keenan hanya mengikuti dari belakang dengan mulut terkunci.
***
“KEENAN!”
Suara yang ia kenal. Nada ceria yang ia hafal. Derap langkah setengah berlari yang khas. Namun entah kenapa, kali ini Keenan agak enggan menoleh ke belakang. Ditariknya napas dalam-dalam sebelum ia akhirnya membalikkan punggung.
“Hai, Gy.”
“Hai, hai. Gimana malam Minggu kemarin? Seru ya, filmnya? Noni sampai kemimpi-mimpi gitu. Sori ya, aku nggak gabung. Udah makan malam belum? Pemadam Kelaparan yuk…” dengan semangat tinggi Kugy menyerocos.
“Aku masih kenyang, dan harus cepat pulang. Banyak tugas. Nggak pa-pa, ya?” Keenan menimpali ringkas.
“No problemo,” Kugy tersenyum lebar, “sebetulnya sih aku kepingin ngobrol, tapi ya udah, nanti-nanti aja.”
“Tentang?”
“Mmm…” Kugy berpikir sejenak, “mmm… udah hampir dua minggu aku kasih majalah yang ada cerpenku itu, tapi… hehe… kok, kamu belum komentar,” Kugy mesem-mesem, “nggak maksa, sih… cuma penasaran aja.”
Keenan menarik napas panjang untuk kedua kali. “Boleh jujur?” tanyanya.
“Harus, dong!” seru Kugy mantap.
“Saya nggak suka.”
Ada letupan dalam hati Kugy yang mendadak seperti dibanjur air. Padam. Air mukanya seketika berubah, meski ia berusaha tampil tenang.
“Buat orang yang nggak tahu kamu, cerpen itu mungkin bagus. Tapi saya merasa dongeng-dongeng kamu jauh lebih otentik, lebih orisinal, dan lebih mencerminkan kamu yang sebenarnya. Dalam cerpen itu, saya tidak menemukan diri kamu. Yang saya temukan adalah penulis yang pintar merangkai kata-kata, tapi nggak ada nyawa.”
Seluruh persendian tubuh Kugy serasa dikunci. Kata-kata Keenan seolah menyulapnya menjadi patung. Ia cuma bisa merasakan air ludahnya tertelan seperti bola bakso yang tak sempat terkunyah.
“Maaf ya, Gy. Kalau memang kamu kepingin saya jujur, ya itulah opini saya. Nggak kurang, nggak lebih.”
Kugy mengangguk kecil. “Makasih udah jujur,” ucapnya pelan.
Tak lama kemudian, Keenan pamit pulang, dan Kugy tetap berdiri di tempatnya. Merenungi kata demi kata yang ia menusuknya bagai hunusan pedang es. Menyakitkan sekaligus membekukan. Membuatnya bungkam tanpa bisa melawan.
***
Malam itu Kugy terjaga lama di tempat tidur. Telentang menghadap langit-langit kamar kosnya dengan pikiran yang terus berputar dan hati yang teraduk-aduk. Ia tak mengerti mengapa komentar Keenan meninggalkan dampak yang begitu dalam. Ia juga tak mengerti mengapa ia begitu menunggu-nunggu pendapat Keenan, seolah pendapat manusia satu itulah yang terpenting. Ironisnya, semua orang terdekatnya termasuk Ojos, menyukai dan memuji-muji cerpennya, dan hanya Keenan yang begitu tegas dan tanpa tedeng aling-aling menyatakan tidak suka.
Seharian Kugy bertanya dan bertanya: apa yang salah? Bagaimana mungkin Keenan menyebutnya penulis yang cuma pintar merangkai kata tapi tak bernyawa? Padahal ia setengah mati mengerjakan cerita pendek itu. Setiap kata dipilihnya dengan cermat dan teliti. Ia menulis dengan plot yang sudah diatur apik. Setiap konflik dimunculkan dengan momen yang sudah diperhitungkan. Ia hafal mati formula dan teori dari pedoman membuat cerita yang baik dan benar. Mungkinkah selera Keenan yang ‘salah’?
Kugy terduduk tegak. Membuka majalah yang memuat cerpennya, dan mulai membaca dari awal hingga akhir. Lalu ia menyalakan komputer, membuka salah satu file dongengnya, dan juga membacanya saksama. Kugy mulai menyadari sesuatu. Dalam dongengnya, ia seolah berlari bebas, sesuka hati. Dalam cerpen itu, ia seperti berjalan meniti tali, berhati-hati dan penuh kendali. Dan ada satu perbedaan yang kini menjadi sangat jelas baginya: dalam dongengnya ia bercerita untuk memuaskan dirinya sendiri, sementara dalam cerpennya ia bercerita untuk memuaskan orang lain.
Ingatannya pun kembali mundur ke siang tadi, dan kembali ia rasakan perih sayatan kata-kata Keenan. Namun kali ini ia ikut merasakan kebenarannya.


bersambung di page 5

ajiban
29th July 2008, 10:11 PM
PERAHU KERTAS - Dewi Dee

http://wap.xl. co.id/portal/

PART 2: Bulan, Perjalanan, Kita - Page 5
________________________________________

Page 5

Bandung, Desember 1999…
Tempat kos yang lengang itu semakin terasa sepi karena hampir semua penghuninya sudah kembali ke kota masing-masing untuk menikmati liburan semester. Hanya segelintir yang tersisa.
Keenan memasukkan barang-barang terakhirnya sebelum tas itu resmi diamankan dengan gembok kecil.
Pintu kamarnya yang setengah terbuka tahu-tahu terbuka lebar. Bimo, teman kos-nya, muncul sambil menenteng travel bag. “Hai, Nan. Jadi mau ikut ke Jakarta pakai mobil gua, nggak? Masih ada tempat untuk satu lagi.”
Keenan menggeleng. “Nggak, Bim. Gua pakai kereta api nanti sore. Udah beli tiket. Salam buat anak-anak, deh.”
Bimo yang sudah mau beranjak pergi mendadak menahan langkahnya, seperti teringat sesuatu. “Oh, ya… selamat, ya.”
“Untuk?”
“Kata anak-anak, IP lu tertinggi satu angkatan. Nggak percuma lu disebut Siluman Kampus, kerjanya pulang melulu, ngerem di kamar kayak beruang,” Bimo terkekeh.
Keenan hanya tersenyum sekilas, entah harus merasa bangga atau tersindir. Tapi ia cukup suka sebutan itu. Siluman Kampus.
***
Begitu Fiat kuning itu menepi, Keenan yang sudah menunggu di teras depan langsung menghampiri bagasi mobil dan memasukkan tasnya. Baru setelah membuka pintu, ia tersadar akan satu sosok yang tidak ia duga kehadirannya.
“Kugy? Kamu ke Jakarta hari ini juga?” tanya Keenan heran.
“Hai, Nan. Aku tukeran tiket sama Eko,” jawab Kugy berseri-seri.
Keenan ganti menatap Eko, “Gua pikir, Fuad dititip ke Noni dan lu pulang ke Jakarta hari ini sama gua.”
“Ternyata gua baru bisa ke Subang lusa, Nan. Jadi Eko nemenin gua dulu di Bandung,” Noni menjelaskan.
“Oh. Oke.” Keenan berkata pendek.
Sebersit perasaan aneh menyusupi hati Kugy, yang melengkapi kecurigaannya selama ini. Tadinya Kugy berasumsi bahwa sebulan ini Keenan banyak menyendiri karena belajar mati-matian, dan itu memang dibuktikan oleh IP tertinggi yang diraihnya. Tapi baru sore ini Kugy merasakan adanya alasan lain. Ia merasa dihindari oleh Keenan.
Tanpa banyak bicara, Keenan mengempaskan tubuhnya di jok belakang. Tungkai kakinya yang panjang membuat lututnya selalu nyaris beradu dengan jok depan. Dengan ekor matanya, Kugy mengamati. Sebagaimana ia mengamati sepatu Keenan yang kali ini tampak baru dicuci bersih, sebagaimana ia tahu Keenan sedang mengenakan kemeja jins lengan panjang yang dulu dipakai saat menggandeng tangannya di bioskop, sebagaimana ia hafal aroma sampo yang meruap dari rambut Keenan yang tergerai. Kugy mengamati dan mengingat itu semua. Untuk apa, ia pun tak mengerti. Namun semua itu melekat dalam memorinya, telah lama menghantuinya, tanpa bisa ia kendalikan.
***
Keenan memejamkan matanya sejak sepuluh menit pertama kereta api itu bertolak dari stasiun Bandung. Ia terbangun oleh karena haus yang menggigit dan hening yang dirasakan terlalu lama dari seharusnya. Saat matanya membuka, kereta itu memang sedang berhenti di sebuah stasiun kecil. Dan Kugy tidak ada di sebelahnya.
Dari kasak-kusuk orang di sekeliling, Keenan menyimpulkan bahwa kereta itu sudah berhenti lama di sana, dan keterlambatan ini mulai menggelisahkan banyak penumpang.
Penasaran, Keenan pun memutuskan untuk keluar dan bertanya langsung pada petugas.
“Muhun. Ada kereta yang anjlok, cep. Jadi kita tertahan di sini, mungkin setengah jam sampai sejam. Belum ada pemberitahuan.” Petugas stasiun itu menjelaskan. Di atas kepalanya tergantung plang: Stasiun Citatah. Kereta itu bahkan belum menempuh separuh perjalanan.
Langit mulai remang, pertanda sore mulai menua. Awan mendung yang sejak tadi bergelantungan mulai merintikkan selapis gerimis tipis. Meski dianjurkan menunggu di dalam kereta, Keenan merasa tak ingin kembali ke sana cepat-cepat. Ia mengedarkan pandangan, mencari sesuatu yang sekiranya membuat perasaannya tertarik. Dan matanya tertumbuk pada pelataran depan stasiun.
“Cep! Jangan jauh-jauh!”
Sayup, Keenan mendengar petugas tadi memperingatkannya. Namun ia merasa kakinya terundang untuk keluar, menuju jalanan pedesaan yang setengah becek, berhiaskan satu-dua warung kopi yang mulai menyalakan lampu petromaknya untuk menyambut gelap malam.
Di sebuah warung, Keenan berhenti. Aneka gorengan yang terpajang di sana tampak menarik, belum lagi bersisir-sisir pisang susu yang kuning masak tampak bergelantung di kayu penyangga tendanya.
“Mangga, ngopi dulu, Den.” Ibu tua pemilik warung menyapa ramah.
Baru saja Keenan hendak duduk di bangku kayu itu, tiba-tiba dari sisi seberangnya muncul kepala dan kedua tangan mungil yang sedang meraih pisang susu.
“Kugy?”
“Hei! Udah bangun? Kok bisa nyampe sini juga?” Kugy heran bukan main.
“Hmm. Radar Neptunus—mungkin?” cetus Keenan, antara geli dan takjub. Ia pun duduk di sebelah Kugy dan memesan secangkir kopi panas. Keduanya langsung mengobrol dan tertawa-tawa, tak habis pikir bagaimana mereka bisa berakhir di tempat yang sama tanpa janjian.
“Sebentar… sebentar…” tiba-tiba Kugy memotong pembicaraan. Wajahnya tampak siaga seolah-seolah sesuatu akan menyeruak muncul.
“Ada apa?” Keenan ikut melihat ke sekeliling.
“Bau ini… kamu cium, nggak?” Kugy mengendus-endus.
“Kamu kentut?”
“Bukan!” Kugy memberengut, “Ini bau tanah yang baru kena hujan… kecium, nggak?” Kugy lantas menghirup napas dalam-dalam, berkali-kali, dan mukanya seperti orang ekstase. “Sedaaaaap…” gumamnya.
Keenan ikut mengendus, dan mulai ikut menghirup. “Gy… tambah lagi wangi kopi, nih… hmmm… enaaak…”
Kugy mencomot kulit pisang, “Tambah lagi nih wangi pisang… asoooy…”

ajiban
29th July 2008, 10:12 PM
PERAHU KERTAS - Dewi Dee

http://wap.xl. co.id/portal/

PART 2: Bulan, Perjalanan, Kita - Page 6
________________________________________

Page 6

Keduanya sibuk membaui ini-itu, tanpa menyadari ibu pemilik warung sudah mulai was-was melihat kelakuan mereka.
“Gerimis, wangi tanah kena hujan, kopi, dan pisang… dahsyat. Aku nggak bakal lupa kombinasi ini.” Kugy tersenyum lebar, kilau di matanya kian bersinar tertimpa sinar lampu.
“Stasiun Citatah, warung, lampu templok, dan… kamu. Saya juga nggak bakal lupa.”
Mendengar itu, Kugy termangu. Ia merasa tergerak untuk mengatakan sesuatu, tapi lidahnya kelu. Ia ingin bertanya, apakah intuisinya benar? Bahwa Keenan dengan halus telah menghindarinya. Bahwa ada keanehan yang terjadi antara mereka berdua, tapi entah apa. Namun Kugy tak tahu harus memulai dari mana.
Kembali dalam keheningan, mereka duduk diam. Keenan menyeruput kopinya perlahan. Begitu juga Kugy dengan teh panasnya. Namun kali ini hening itu tidak menjengahkan. Setiap detik bergulir sejuk dan khidmat, seperti tetes hujan yang kini turun satu-satu.
“Nan… kamu benar soal cerpenku itu,” tiba-tiba Kugy memecah sunyi, “aku nggak menjadi diriku sendiri. Aku bikin cerita itu untuk cari duit, untuk cari pengakuan doang…”
Keenan mengangkat kepalanya, menatap balik pada Kugy yang tengah menatapnya lekat-lekat.
“Makasih, ya. Kalau bukan karena kamu berani jujur sama aku, mungkin aku nggak akan menyadari itu semua. Nggak berarti aku bakal berhenti nulis cerpen sama sekali, sih. Tapi sekarang aku bisa melihat diriku apa adanya, di mana kelemahanku, dan di mana kekuatanku.”
Senyum mengembang di wajah Keenan. Hangat. “Gy, jalan kita mungkin berputar, tapi satu saat, entah kapan, kita pasti punya kesempatan jadi diri kita sendiri. Satu saat, kamu akan jadi penulis dongeng yang hebat. Saya yakin.”
Kugy menghela napas, pandangan matanya mengembara. “Gerimis, melukis, menulis… satu saat nanti, kita jadi diri kita sendiri,” gumamnya lambat, seperti mengeja. Seperti mengucap doa.
Dari jauh terdengar pengumuman bahwa kereta akan segera diberangkatkan. Mereka berdua pun beranjak dari sana. Tanpa terburu-buru. Menapaki tanah becek dengan hati-hati. Tepat sebelum kereta berjalan, kaki mereka menjejak gerbong.
Di gang antar gerbong yang sempit dan berguncang keras, keduanya berdiri sejenak. Kugy bisa merasakan jarak Keenan yang begitu dekat di punggungnya, membaui aroma minyak wangi yang samar tercium dari kemejanya, dan terasa sesekali wajah Keenan menyentuh rambutnya.
Meski tempat mereka berdiri sangat berisik, Kugy dapat mendengar Keenan berbisik di sela-sela rambutnya yang berkibar ditiup angin. Entah Keenan berbisik untuknya, untuk dirinya sendiri, atau untuk mereka berdua. Namun dengan jelas Kugy menangkap tiga kata yang dibisikkan Keenan: “Bulan, perjalanan, kita…”
Baru ketika duduk di bangkunya yang bersebelahan dengan jendela, Kugy menyadari bahwa bulan bersinar benderang di angkasa. Tanpa bisa ditahan, Kugy merasa pelupuk matanya menghangat, dan pandangannya berkaca-kaca. Ingin rasanya ia membungkus bisikan Keenan tadi, menyimpannya di hati. Tiga kata yang tak sepenuhnya ia pahami, tapi nyata ia alami saat ini. Bulan. Perjalanan. Mereka berdua.
***
Sudah sejam Ojos menunggu di kafe itu, segala macam minuman dan donat aneka rasa sudah ia pesan sampai perutnya penuh sesak. Dan akhirnya bergaunglah pengumuman bahwa kereta Parahyangan yang ditumpangi Kugy telah tiba. Segera ia beranjak dari sana dan menunggu di mulut pintu keluar.
Dari jauh Ojos sudah bisa mengenali sosok mungil itu. Rambut sebahunya yang tergerai beradu dengan ransel besar yang seolah menenggelamkan tubuh kecilnya, belum lagi jaket jins yang sudah bisa dipastikan hasil minjam saking kebesarannya. Namun sesuatu di balik kekacauan berbusana itu yang membuat ia mencuat di mana pun ia berada. Dari jarak seperti ini pun Ojos bahkan sudah bisa melihat hidupnya binar kedua mata itu, merasakan hangat kehadirannya, tawanya yang lepas tanpa beban… kening Ojos tahu-tahu berkerut. Matanya memicing. Ada seseorang yang berjalan di sebelah Kugy. Orang yang tidak ia kenal. Saksama, Ojos mengamati, seperti menjalankan scanning. Keningnya semakin berkeriut.
“Ojos!” Kugy melambaikan tangan, lalu menghampirinya setengah berlari.
“Hi, babe,” Ojos meraih pinggang Kugy, dan mengecupnya di pipi. Sigap, ia melepaskan ransel dari bahu Kugy lalu menyampirkan barang besar itu di bahunya.
“Jos, kenalin. Ini sepupunya Eko…”
“Keenan.” Keenan langsung mengulurkan tangan dan tersenyum ramah.
“Hai. Joshua.” Ojos menyambut tangan itu. Sebelah tangannya tak lepas merangkul Kugy.
“Sampai ketemu semester depan, ya, Gy. Selamat menulis.”
“Selamat melukis. Jangan lupa…” Kugy menempelkan kedua telunjuknya di ubun-ubun seperti antena.
Seketika Keenan tertawa renyah. “Radar Neptunus…” ia lalu ikut menempelkan kedua telunjuk di ubun-ubun.
Mata Ojos tak lepas mengamati itu semua, bahkan ketika Keenan sudah pamit pulang dan membalik pergi. Ada gelombang yang tertangkap oleh radarnya. Gelombang yang mengisyaratkan ketidakberesan, situasi yang tidak aman. Dan Ojos tidak merasa nyaman.


bersambung ke page 7

dulitem
31st July 2008, 10:40 AM
makasih ya untuk perahu kertasnya.... bagus juga ceritanya...

ajiban
4th August 2008, 11:26 AM
PERAHU KERTAS - Dewi Dee

http://wap.xl. co.id/portal/

PART 2: Bulan, Perjalanan, Kita - Page 7
________________________________________

Page 7

Meja makan dengan empat kursi itu baru diisi tiga orang, satu kursi masih kosong. Meski hanya bertiga, suasana di meja makan itu terasa semarak. Dua bersaudara laki-laki itu mengobrol tanpa henti seolah sudah tahunan tak bertemu. Ibu mereka sesekali menimpali, atau ikut tertawa bersama.
Terdengar suara pintu depan terbuka, dan seseorang memasuki ruang makan, duduk di kursi keempat.
“Hai, Pa…” Jeroen dan Keenan menyapa.
“Maaf ya, kalian jadi menunggu. Tamu itu sudah Papa suruh datang ke kantor saja, tapi dia maksa datang ke sini karena udah nggak ada waktu lagi, katanya.”
“It’s okay.” Lena tersenyum sambil menuangkan teh panas ke cangkir suaminya. “Keenan punya pengumuman buat kamu, tuh.”
“Oh, ya? Apa, Nan?” tanya ayahnya sambil meminum teh itu sedikit demi sedikit.
Keenan melirik ibunya, seperti ragu untuk bicara. “Mmm… IP-ku 3,7 semester ini.”
“Tertinggi di angkatannya,” Lena menambahkan dengan senyum berseri.
“Bagus,” sahut ayahnya datar, ditambah sedikit manggut-manggut. Namun ada kepuasan yang tak bisa disembunyikan membersit di wajahnya. “Sudah kubilang kamu memang cocok kuliah di Ekonomi. 0,3 lagi untuk IP sempurna, semester depan kira-kira bisa?”
“Mungkin,” jawab Keenan pendek.
“Apa pun yang kamu butuh, komputer baru, buku-buku referensi… bilang saja. Nanti Papa siapkan.”
“Saya mau minta waktu.”
Cangkir teh itu segera diletakkan di meja. “Maksud kamu?”
“Saya minta ekstra seminggu dari jatah liburan kuliah.”
“Dia minta waktu lebih lama di Ubud…” Lena berusaha menjelaskan.
“Aku ngerti maksudnya,” potong ayahnya tajam. “Kamu minta izin seminggu bolos kuliah, gitu?”
Keenan mengangguk.
“Buat Papa, kuliah kamu harus jadi prioritas. Dan kamu sudah membuktikan itu di semester ini. Lalu… kamu malah minta hadiah berupa… bolos kuliah?”
Keenan mengangguk lagi.
“Aneh. Nggak ngerti,” ayahnya geleng-geleng kepala, “lalu, barusan kamu bilang mau meningkatkan IP kamu sampai 4, gimana itu bisa terjadi kalau belum apa-apa langsung bolos seminggu?”
“Saya kan cuma bilang: mungkin.”
“Nan, jangan mulai sok pintar, ya…”
“Pa, saya nggak minta macam-macam. Saya nggak minta kendaraan. Saya nggak minta komputer baru. Saya nggak minta buku apa-apa. Saya cuma minta waktu tambahan satu minggu di tempat Pak Wayan.” Nada bicara Keenan mulai mengeras.
“Tapi minta bolos itu namanya ‘macam-macam’. Seminggu lagi! Buat apa sih kamu lama-lama amat di Ubud?”
“Saya udah kasih enam bulan buat Papa. Dan sekarang saya cuma minta satu minggu…”
“Memangnya kamu kuliah buat saya?” sergah ayahnya.
Keenan tak menjawab, hanya menghela napas, seolah menghadapi pertanyaan retoris yang semua orang di situ tahu jawabnya.
Tawa canda yang tadi semarak seperti menguap tanpa bekas, berganti dengan ketegangan yang sunyi. Empat orang duduk kaku tanpa suara.
“Aku yakin Keenan nanti bisa mengejar ketinggalan satu minggunya,” akhirnya Lena berkata.
“Terserah,” sahut suaminya setengah menggumam, lalu berdiri dan pergi.
***
Semua perlengkapannya sudah terkemas rapi. Begitu juga dengan Jeroen yang bahkan sudah siap packing sejak dua hari yang lalu. Dia akan menemani abangnya beberapa hari di Ubud, sebelum menyusul teman-temannya yang study tour di Kuta. Jeroen mengaku bisa mati bosan di Ubud yang sepi, tapi ia rela mengorbankan beberapa hari liburannya demi menghabiskan waktu bersama Keenan.
Hanya ada satu hal yang Keenan ingin lakukan sebelum dia pergi ke bandara sebentar lagi. Dibukanya buku kecil berisikan daftar nomor telepon teman-temannya, mencari satu nama.
“Halo…” Suara remaja cewek menyambutnya.
“Selamat pagi, bisa bicara dengan Kugy?”
Suara dari ujung sana terdengar riuh, berlatar belakang sekian banyak orang yang berbicara. “Kugyyy! Telepooon!”
“Di kamar mandi kayaknya!” Terdengar ada suara perempuan yang menyahut.
“Gy! Lama amat sih? Berak, ya? Telepon, tuh!” Ada suara laki-laki menimpali.
Lalu terdengar langkah kaki berderap menuruni tangga. “Enak aja, lagi di atas, tauk! Bentaaar!”
“Berarti siapa tuh yang di kamar mandi? Kok bau? Woi! Ada yang kentut, ya? Ngaku!”
“Halo,” akhirnya terdengar suara Kugy menyapa.
“Hai, Gy.”
Mata Kugy membundar seketika. “Keenan?”
“Iya. Rame banget di rumah kamu. Lagi ada acara?”
“Oh, enggak. Tiap hari memang begini,” Kugy tertawa kecil, “kamu… apa kabar? Kok, tumben telepon? Hehe, bukannya nggak boleh, lho. Cuma aneh aja. Bukan aneh gimana, sih. Cuma… yah…” Kugy mulai salah tingkah.
“Saya mau ke Bali, mungkin sampai sebulan. Mau pamitan.”
“Oh…”
“Habis ini saya juga mau telepon Eko atau Noni. Pamitan juga,” gugup Keenan menambahkan. “Mau oleh-oleh apa?”
“Hmm. Apa, ya?” Kugy berpikir-pikir, “Kaos barong udah punya lima, sarung pantai ada tiga, miniatur papan surfing ada satu…”
“Kacang asin?”
“Aku tahu!” seru Kugy, “Sesuatu yang nggak boleh dibeli.”
“Jadi dicolong?”
Kugy tergelak, “Bukan. Sesuatu yang harus dibikin.”
“Oke,” Keenan tersenyum, “saya janji.”
Terasa ada sesuatu yang mengaliri darahnya. Kugy merasa hangat. Terasa ada sesuatu yang menariki kedua ujung bibirnya. Kugy merasa ingin terus tersenyum. Sekilas Kugy melihat bayangannya di lemari kaca, dan merasa tolol sendiri.
“Gy… udah harus cabut, nih. Sori nggak bisa telepon lama-lama. Baik-baik, ya. Sampai ketemu semester depan.”


bersambung ke page 8

ajiban
7th August 2008, 10:25 PM
PERAHU KERTAS - Dewi Dee

http://wap.xl. co.id/portal/

PART 2: Bulan, Perjalanan, Kita - Page 8
________________________________________

Page 8

“Sip. Sampai ketemu semester depan.” Dan telepon itu ditutup dari ujung sana. Kugy meletakkan gagang telepon dengan hati-hati, lalu terduduk lama. Percakapan telepon barusan tak sampai dua menit, tapi serasa waktu telah melemparkan jangkarnya dan berhenti di sana. Dan kini perlahan Kugy mencabut jangkar tadi, kembali ke ruang keluarga rumahnya, kembali bersama kegaduhan yang rutin berlangsung di sana.
Ubud, Desember 1999…
Meski terletak di Desa Lodtunduh yang agak jauh dari pusat kota, semua orang di Ubud tahu keberadaan kompleks keluarga satu itu. Di sana tinggallah Pak Wayan dan keluarga besarnya, di sebuah tanah berbukit berlembah yang dilewati sungai dengan luas hampir lima hektar. Semua anggota keluarga itu menjadi seniman-seniman besar. Ada yang mendalami lukis, ukir, patung, tari, bahkan pengrajin perhiasan. Seolah-olah semua ragam seni di Bali memiliki wakilnya masing-masing di keluarga tersebut. Satu bulan di tempat keluarga Pak Wayan membayar seluruh kerinduan Keenan terhadap seni, sekaligus mengisi baterainya untuk berbulan-bulan ke depan.
Ibunya adalah sahabat lama Pak Wayan, dan Keenan mengenal sosok pria itu sejak kecil. Pertemuannya dengan Pak Wayan terbilang jarang, tapi amat membekas di hati. Ia bertemu dengan pria itu hanya jika ibunya mengunjungi pameran lukisan Pak Wayan di galeri di Jakarta. Inilah kunjungan pertamanya ke Desa Lodtunduh, tempat yang selama ini cuma ia lihat dari foto-foto yang dikirimi Pak Wayan. Keenan langsung jatuh cinta pada tempat itu. Ia merasa bisa tinggal selamanya di sana.
Sejak pindah ke Amsterdam, baru kali inilah Keenan bertemu langsung dengan Pak Wayan lagi. Keduanya tak berhenti berkorespondensi. Keenan selalu mengirimkan foto-foto lukisannya, begitu juga dengan Pak Wayan. Keenan bahkan berkorespondensi dengan beberapa keponakan Pak Wayan yang seumur dengannya, dan mereka akrab seperti saudara meski belum pernah bertemu langsung. Kedatangannya kali ini memang lebih terasa seperti mengunjungi keluarga di kampung halaman.
Tidak setiap hari Keenan menghabiskan waktunya untuk melukis, terkadang ia merasa cukup puas hanya menontoni aneka kegiatan seni yang dilakukan sanak-saudara itu. Seharian ini ia cuma menguntit Banyu, salah satu keponakan Pak Wayan, yang sedang mengerjakan pesanan patung.
Pak Wayan berdiri tak jauh dari sana, tempat Keenan jongkok di sebelah Banyu dengan mata nyaris tak berkedip.
“Tertarik belajar mahat, Nan? Serius sekali.”
Keenan tertawa ringan. “Cuma mengagumi, Poyan. Saya belum pernah coba. Poyan sendiri—bisa memahat?”
Pak Wayan gantian tertawa sambil memampangkan kedua telapaknya, “Ini jari kuas. Bukan jari perkakas. Biar sajalah itu jadi jatahnya Banyu dan bapaknya.”
“Dicoba saja, Nan. Siapa tahu cocok…” Banyu ikut menimpali.
Keenan melihat sekelilingnya. Bonggol-bonggol kayu dan perkakas pahat yang berserakan. Air mukanya mulai menunjukkan ketertarikan.
“Sudah, tunggu apa lagi. Mumpung bapaknya si Banyu juga lagi di sini. Jadi kamu bisa tanya-tanya. Karyanya mereka ini bahkan disegani di Desa Mas, pusatnya seni patung,” Pak Wayan ikut memanas-manasi.
“Oke, oke. Hari ini saya nonton dulu aja, Poyan,” sambil mesem-mesem Keenan berkata. Ia pun kembali menontoni Banyu dengan setia.
***
Menjelang petang, Keenan kembali masuk ke studio patung keluarga Pak Putu. Kali ini ia cuma sendirian di sana. Di studio itulah Pak Putu dan anaknya, Banyu, biasa bekerja. Hanya terpisahkan sepetak taman dengan studio lukis Pak Wayan.
Ada banyak bahan-bahan mentah berbagai ukuran yang teronggok di sana. Keenan mengenali beberapa. Ada kayu sonokeling, kayu kamboja, kayu suar, kayu belalu, kayu ketapang, dan beberapa elemen tambahan seperti akar, serat, serta ranting-ranting. Setelah membolak-balik beberapa bahan, Keenan akhirnya mengambil sepotong kayu yang berukuran agak kecil.
Memulai dari yang kecil, pikirnya. Tak lama kemudian, Keenan mengambil posisi, menyiapkan perkakas yang ia butuhkan, dan mulai memahat. Sampai larut malam ia tak keluar-keluar dari sana.


Bersambung ke : PART 3: Wanda, Warsita, dan Rahasia Hati......

nidhea
9th August 2008, 12:16 AM
silahkan download di sini (http://techxcell.nwps.ws/upload/other/dee.pdf) ya...

http://techxcell.nwps.ws/upload/other/dee.pdf

edit:
Maap Jendral...
salah info, maklum dah tengah malem...
ini sampe bab 3 maksudnya

nidhea
9th August 2008, 12:20 AM
Silahkan download di sini (http://www.box.net/shared/jnkkzklyck)
udah sampe bab 5.

ini alamat-nya
http://www.box.net/shared/jnkkzklyck

ajiban
9th August 2008, 10:05 AM
wah udah ada yang upload ya...
aku juga tinggal nunggu kiriman lagi nih....
nunggu kiriman bab 6 dan seterus nya :D

nidhea
10th August 2008, 02:42 PM
nunggu kiriman bab 6 dan seterus nya :D

kalo udah ada yang bab 11 - 12 share di sini ya...
ternyata link pertama yang aku kasih kemaren udah sampe bab 10

ajiban
11th August 2008, 11:22 PM
wah, aku jadi nggak perlu posting perhalaman nih..
makasih ya :)

ajiban
5th September 2008, 08:36 AM
udah ada yang punya bab 11 ?
sharing dongg... :D

hasehase
19th November 2008, 10:47 PM
eh bro plis yg punya ab 11 dan 12 segera di posting ya,
1000x plis..hehe

ndre85
5th November 2009, 03:50 PM
ada disini

http://downloadterus.weebly.com/4/post/2009/10/novel4.html

bluesafadi
10th September 2010, 11:36 AM
sepp/..... jempol buat neh cerita... bagus... :)

luckyman
9th October 2010, 04:24 PM
Siiiipppppppp ...................... :D

AxiooNeon
10th October 2010, 06:25 AM
cerpennya bagus...

keep post ya