Chessy
21st May 2010, 09:41 AM
Walaupun sebenarnya kita berharap andai kita tidak perlu melakukannya, tapi marah sambil berteriak terkadang merupakan senjata paling ampuh yang sering dilakukan kita para orang tua untuk “mengendalikan” kenakalan anak. Mungkin dengan meninggikan suara merupakan solusi yang paling tepat untuk saat itu, tapi itu merupakan cara komunikasi yang tidak efektif. Berikut alasan mengapa kita harus berhenti berteriak kepada anak.
1. Berteriak berarti meremehkan mereka.
Membiasakan berbicara dengan nada tinggi ke anak akan membuat si kecil merasa dirinya tidak berharga untuk bisa diajak bicara dengan cara yang lebih sopan. Jika kondisi seperti ini terus berlanjut dapat mengakibatkan si kecil menjadi rendah diri, memiliki citra diri yang buruk, dan lebih parahnya sampai menyebabkan rasa kecemasan yang berlebihan.
2. Berteriak tidak akan mengajarkan mereka konsekuensi dari perbuatan mereka.
Jika teriakan selalu menjadi satu-satunya cara yang bisa kita lakukan ketika anak bersikap nakal, maka di otak mereka akan tertanam bahwa “terikan” hanyalah konsekuensi yang akan selalu mereka terima setiap kali bersikap tidak patuh. Pastikan kita selalu mempunyai konsekuensi yang pantas atas setiap sikap mereka yang tidak benar. Contohnya, membiarkan mereka lapar apabila mereka menolak atau sulit makan. Karena dengan cara seperti ini merupakan kunci untuk memastikan mereka benar-benar belajar dan berkembang.
3. Bukan teknik komunikasi yang baik.
Berteriak sesekali mungkin bisa menjadi cara yang efektif untuk meminta perhatian dari si kecil, asalkan pada kesehariannya kita tidak membiasakan diri untuk selalu berteriak pada mereka. Karena ketika teriakan menjadi sebuah rutinitas maka hasilnya, mereka akan menganggap itu sebagai hal yang biasa dan pesan kita pun tidak mungkin diterima dengan baik oleh si kecil.
4. Teriakan menjadikan anak seorang pembangkang.
Dengan berteriak kita mengisyaratkan bahwa kita sudah tidak bisa mengendalikan emosi. Menaikan suara kita karena bingung mengenai apa yang harus kita lakukan ketika si kecil bersikap nakal merupakan pertanda kita telah menyerah. Pada saat kita berteriak, si kecil pun sudah tahu kalau mereka sudah menang dan kemungkinan besar mereka akan tetap melanjutkan perbuatan nakal mereka lagi.
5. Berteriak ke anak akan mengajarkan mereka berteriak juga.
Buah tidak akan jatuh dari pohonnya. Anak akan selalu berpanutan atau belajar apapun dari apa yang kita lakukan. Jadi, jika kita selalu berkomunikasi dengan menaikan suara sejak mereka balita, maka si kecil akan mempelajari kalau berteriak adalah cara berkomunikasi yang efektif dan benar. Lalu mereka mulai berteriak pada pembantu rumah tangga, teman, guru dan jangan heran jika suatu saat mereka akan berteriak kepada kita.
Oleh sebab itu, berikut tip untuk menjaga “teriakan” tetap terkontrol: (http://vibizlife.com/family_details.php?id=18760&pg=family)
1. Berteriak berarti meremehkan mereka.
Membiasakan berbicara dengan nada tinggi ke anak akan membuat si kecil merasa dirinya tidak berharga untuk bisa diajak bicara dengan cara yang lebih sopan. Jika kondisi seperti ini terus berlanjut dapat mengakibatkan si kecil menjadi rendah diri, memiliki citra diri yang buruk, dan lebih parahnya sampai menyebabkan rasa kecemasan yang berlebihan.
2. Berteriak tidak akan mengajarkan mereka konsekuensi dari perbuatan mereka.
Jika teriakan selalu menjadi satu-satunya cara yang bisa kita lakukan ketika anak bersikap nakal, maka di otak mereka akan tertanam bahwa “terikan” hanyalah konsekuensi yang akan selalu mereka terima setiap kali bersikap tidak patuh. Pastikan kita selalu mempunyai konsekuensi yang pantas atas setiap sikap mereka yang tidak benar. Contohnya, membiarkan mereka lapar apabila mereka menolak atau sulit makan. Karena dengan cara seperti ini merupakan kunci untuk memastikan mereka benar-benar belajar dan berkembang.
3. Bukan teknik komunikasi yang baik.
Berteriak sesekali mungkin bisa menjadi cara yang efektif untuk meminta perhatian dari si kecil, asalkan pada kesehariannya kita tidak membiasakan diri untuk selalu berteriak pada mereka. Karena ketika teriakan menjadi sebuah rutinitas maka hasilnya, mereka akan menganggap itu sebagai hal yang biasa dan pesan kita pun tidak mungkin diterima dengan baik oleh si kecil.
4. Teriakan menjadikan anak seorang pembangkang.
Dengan berteriak kita mengisyaratkan bahwa kita sudah tidak bisa mengendalikan emosi. Menaikan suara kita karena bingung mengenai apa yang harus kita lakukan ketika si kecil bersikap nakal merupakan pertanda kita telah menyerah. Pada saat kita berteriak, si kecil pun sudah tahu kalau mereka sudah menang dan kemungkinan besar mereka akan tetap melanjutkan perbuatan nakal mereka lagi.
5. Berteriak ke anak akan mengajarkan mereka berteriak juga.
Buah tidak akan jatuh dari pohonnya. Anak akan selalu berpanutan atau belajar apapun dari apa yang kita lakukan. Jadi, jika kita selalu berkomunikasi dengan menaikan suara sejak mereka balita, maka si kecil akan mempelajari kalau berteriak adalah cara berkomunikasi yang efektif dan benar. Lalu mereka mulai berteriak pada pembantu rumah tangga, teman, guru dan jangan heran jika suatu saat mereka akan berteriak kepada kita.
Oleh sebab itu, berikut tip untuk menjaga “teriakan” tetap terkontrol: (http://vibizlife.com/family_details.php?id=18760&pg=family)