PDA

View Full Version : "Rudy Habibie dan Rudy Chaerudin, Sukses


setyowati79
8th November 2008, 04:47 PM
Saya ingat waktu di SMA dulu, kami (murid) harus menjalani test IQ untuk
penjurusan. Sekolah saya menetapkan bahwa murid2 dengan IQ tinggi bisa
masuk ke jurusan IPA/Science. Murid dengan IQ sedang hanya bisa masuk
jurusan Sosial dan yang paling rendah IQnya hanya diijinkan untuk masuk
ke jurusan Bahasa.

Aturan di sekolah saya ternyata berlawanan dengan aturan dari SMA swasta
terkenal di Yogyakarta yang mengarahkan anak-anak yang ber IQ paling tinggi
justru ke jurusan Bahasa.

Sewaktu saya diskusi dengan Romo Mangun Wijaya (Alm) tentang kurikulum
sekolah, Beliau mengatakan bahwa pen didikan di Indonesia masih mewarisi
"budaya" kolonial Belanda.

Menurut beliau, seharusnya anak-anak yang kecerdasannya tinggi seharusnya
diarahkan untuk masuk jurusan Sosial supaya di masa mendatang akan lahir ekonom,
hakim, jaksa, pengacara, polisi, diplomat, duta besar, politisi dsb yang hebat2.
Tetapi rupanya hal itu tidak
dikehendaki oleh penguasa (Belanda). Belanda menginginkan anak-anak yang
cerdas tidak memikirkan masalah2 sosial politik. Mereka cukup diarahkan untuk
menjadi tenaga ahli/scientist, arsitektur, ahli computer, ahli matematika,
dokter, dsb yang asyik dengan science di laboratorium
(pokoknya yang nggak membahayakan posisi penguasa). Saya nggak tahu persis yang
benar Romo Mangun Wijaya atau pemerintah Belanda. Hanya saja waktu itu saya yang
kuliah ambil jurusan Kurikulum jadi patah semangat karena kayaknya kurikulum di
Indonesia ini hampir tidak ada hubungannya dengan kehidupan yang akan dijalani
orang setelah keluar dari sekolah.

Kita bisa lihat, Insinyur yang menjadi politisi bahkan memimpin parlemen,
kemudian dokter (umum) bisa menjadi kepala Dinas P & K atau tenaga
marketing, sarjana theologia yang jadi pengusaha, dsb. Sampai saat ini,masih
banyak orang tua dan masyarakat yang beranggapan bahwa anak yang hebat adalah
anak yang nilai matematika dan science-nya menonjol.

Paradigma berpikir orang tua/masyarakat ini sangat mempengaruhi konsep anak
tentang kesuksesan. Bulan Juni 2003 yang lalu, lembaga tempat saya bekerja
mengadakan seminar anak-anak.

Di depan 800-an anak, Kak Seto Mulyadi (Si Komo) menunjukkan 5 Rudy.
- Yang Ke-1 : Rudy Habibie (BJ Habibie) yang genius, pintar bikin pesawat dan
bisa menjadi presiden.
- Yang Ke-2 : Rudy Hartono yang pernah beberapa menjadi juara bulutangkis kelas
dunia.
- Yang Ke-3 : Rudy Salam yang suka main sinetron di TV
- Yang Ke-4 : Rudy Hadisuwarno yang ahli di bid. kecantikan dan punya byk salon
kecantikan di bbrp kota.
- Yang Ke-5 : Rudy Choirudin yang jago masak dan sering tampil memandu
acara memasak di TV.

Sewaktu Kak Seto bertanya "Rudy yang mana yang paling sukses menurut
kalian?" Hampir semua anak menjawab "Rudy Habibie" Sewaktu
ditanyakan
"Mengapa, kalian bilang bahwa yang paling sukses Rudy Habibie?"

Anak-anakpun menjawab "Karena bisa membuat pesawat terbang, bisa menjadi
presiden, dsb" Sewaktu Kak Seto menanyakan "Rudy yang mana yang
paling
tidak sukses?" Hampir seluruh anak menjawab "Rudy Choirudin"
Ketika
ditanyakan "Mengapa kalian mengatakan bahwa Rudy Choirudin bukan orang
yang sukses?"

Anak-anakpun menjawab "Karena Rudy Choirudin hanya bisa memasak"

Memang begitulah pola pikir dan pola asuh dalam keluarga dan masyarakat
Indonesia pada umumnya yang masih menilai kesuksesan orang dari
karya-karya besar yang dihasilkannya. Masyarakat kita banyak yang belum
bisa melihat kesuksesan adalah pengembangan talenta secara optimal
sehingga bisa dimanfaatkan dalam kehidupan yang dijalaninya dengan
"enjoy".

Banyak masyarakat kita yang beranggapan bahwa IQ adalah segala-galanya.
Padahal kenyataannya EQ, SQ dan faktor2 lain juga sangat menentukan.
Dalam seminar tsb Kak Seto hanya ingin merubah paragidma berpikir
anak-anak (dan juga orang tua/keluarga) . Anak-anak dan orang tua harus
menyadari dan mensyukuri setiap talenta yang diberikan oleh Tuhan.

Bila talenta tersebut dikembangkan dengan baik, maka kita bisa mencapai
kesuksesan di "bidangnya". Jadi untuk anak-anak yang tidak pintar
matematika, anak2 tidak perlu minder dan orang tua tidak perlu malu atau
menekan anak. Anak-anak yang lebih menyukai pelajaran menggambar
daripada pelajaran2 lain, bukanlah anak-anak yang bodoh karena justru
anak2 yang punya imajinasi tinggilah yang pintar menggambar/ melukis.
Anak-anak yang suka ngobrol, kalau kita arahkan bisa saja kelak menjadi
politisi atau negotiator yang baik.

Anak-anak yang banyak bicara, kalau diarahkan untuk menuliskan apa yang
ingin dibicarakan bisa2 menjadi penulis yang hebat. *** Mbak Dwi Setyani
juga mengingatkan kita untuk lebih memfokuskan pada kekuatan kita dari
pada "wasting time" bersungut-sungut, hanya memikirkan kelemahan
kita.

Saya pernah membaca pengalaman hidup seorang penyanyi di Amerika.
Penyanyi tsb dulunya tidak PD karena wajahnya tidak terlalu cantik dan
giginya tonggos. Saat menyanyi di pub, dia repot mengatur bibirnya supaya
giginya yang tonggos tidak dilihat orang. Hasilnya: ia hanya bisa menghasilkan
suara yang pas-pasan. Ketika temannya meyakinkan bahwa giginya yang tonggos itu
bukanlah masalah, maka iapun bisa menyanyi
dengan bebas dan meng-eksplore suara emasnya. Ternyata orang-orang
mengingat penyanyi itu karena kualitas suaranya, bukan parasnya yang jelek
dengan gigi tonggosnya.

*** Kitapun meyakini bahwa Tuhan menciptakan setiap kita (manusia)dengan
maksud yang terbaik demi kemuliaan-Nya. Kalau saja kita meyakini hal tersebut,
maka semua orang akan mensyukuri keadaan dan memanfaatkan talenta yang Tuhan
berikan untuk kemuliaan-Nya.

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)