PDA

View Full Version : Waspada Kanker Rahim!


Erin
25th July 2008, 01:11 PM
Data Departemen Kesehatan menyebutkan di Indonesia terdapat 90-100 kasus kanker leher rahim per 100.000 penduduk. Setiap tahunnya terjadi 200.000 kasus kanker rahim di Indonesia.
Sayangnya kesadaran masyarakat Indonesia akan deteksi dini kanker sangat rendah. 70 persen penderita penyakit ini datang dalam kondisi parah (stadium III atau IV). Cukup banyak jenis kanker rahim. Tapi, ada tiga jenis yang paling banyak menyerang wanita; kanker serviks (leher rahim), kanker ovarium (indung telur), dan kanker endometrium (badan rahim).
1. KANKER SERVIKS
* Gejala
Terdapat keputihan berlebihan, berbau busuk, dan tidak sembuh-sembuh. Tidak semua keputihan pertanda ada kanker. Karena itu, kalau timbul keputihan abnormal sebaiknya periksa ke dokter, apakah itu kanker atau bukan.
Gejala lain, terdapat perdarahan di luar siklus haid. Terutama perdarahan setelah berhubungan intim. Untuk memastikannya harus diperiksa dokter, karena perdarahan bisa juga terjadi akibat gangguan keseimbangan
hormon.
Bila kanker sudah mencapai stadium 3 ke atas, maka akan terjadi pembengkakan di berbagai anggota tubuh, seperti di paha, betis, tangan, dan sebagainya. Tapi, jika masih prakanker justru tak ada gejala.
* Deteksi Dini
Bagi wanita yang telah berhubungan seks, lakukan pemeriksaan Pap's smear; mengambil getah serviks dari vagina yang akan diperiksa ahli patologi. Pap's smear bisa mendeteksi prakanker sampai kanker sehingga memungkinkan dilakukan pengobatan cepat dan tepat. Lakukan pemeriksaan secara berkala, setahun sekali.
* Penyebab
Ada beberapa penyebab kanker leher rahim :
1) Infeksi virus human papiloma. Virus ini melalui hubungan seksual.
2) Kedua, kontak seksual terlalu dini (berjubungan seks kurang dari 15 tahun). Artinya wanita yang berhubungan seks pertama kali pada saat usianya dibawah 15 tahun, maka memiliki risiko tinggi mengalami kanker leher rahim.
3) Berhubungan seks dengan banyak pasangan. Semakin banyak seorang wanita melakukan hubungan seks dengan beberapa pria, maka ia semakin tinggi berisiko mengalami kanker leher rahim.
4) Merokok. Dari berbagai penelitian di negara-negara maju telah ditemukan bahan konstituen rokok di dalam sel-sel epitel leher rahim.
Selain faktor-faktor di atas, faktor keturunan sangat memegang peranan seorang bisa mengalami kanker jenis ini atau tidak. Jika ibu Anda atau saudara perempuan dari pihak ibu atau ayah menderita kanker leher rahim, maka Anda mempunyai risiko 2 kali lebih banyak menderita penyakit yang sama.
Yang lebih menyedihkan, kanker leher rahim banyak dialami pada wanita di usia produktif (berusia 30-40 tahun). Akan tetapi saat ini terjadi peningkatan pada penderita berusia 20-an. Salah satu alasan yang dapat diberikan adalah karena semakin banyak remaja usia 20-an yang telah melakukan hubungan seks.
* Pengobatan
Yang utama lewat operasi; sederhana, besar, khusus. Operasi sederhana dilakukan pada tingkat stadium awal, yang disebut dengan konisasi (pemotongan rahim seperti kerucut). Karena dalam stadium awal (prakanker) dari nol hingga 1A kanker masih berada di sel-sel selaput lendir. Operasi dilakukan bila pasien masih ingin hamil. Bila tak ingin hamil lagi akan dilakukan histerektomi simple (rahim diangkat semua). Tujuannya agar kanker tak kambuh lagi.
Histerektomi radikal akan dilakukan bila kanker sudah stadium 1B sampai 2A/2B. Seluruh rahim diangkat berikut sepertiga vagina, serta penggantung rahim akan dipotong hingga sedekat mungkin dengan dinding
panggul. Indung telur bisa diangkat atau tidak tergantung usia pasien. Bila masih haid, indung telur akan ditinggal. Bila kanker serviks sudah berada dalam stadium 2B ke atas, operasi tak lagi bisa dilakukan, melainkan dengan radiasi atau penyinaran.
Penyinaran memiliki komplikasi; indung telur ikut mati terkena radiasi. Akibatnya hormon pun mati. Padahal hormon diperlukan untuk gairah seksual dan haid. Juga mencegah osteroporosis dan jantung. Komplikasi lainnya, dalam penyinaran bukan enggak mungkin terkena organ lain, semisal dubur dan saluran kencing. Terkadang terjadi luka bakar pada dubur dan terjadi diare atau perdarahan terus. Kalau terjadi demikian, maka dubur atau saluran kencing harus diangkat. Sebagai gantinya akan dibuatkan dubur atau saluran kencing baru lewat perut.
Bahkan, akibat penyinaran vagina pun menjadi kaku, sehingga penderita tak bisa berhubungan seks. Lain dengan operasi, kendati vagina diangkat sepertiganya tapi masih tetap bisa berhubungan seks.
Belum lagi bila ternyata tumor resisten terhadap penyinaran, sehingga berapa pun banyaknya penyinaran, tumornya tetap ada. Padahal komplikasi penyinaran, kan, sangat banyak. Itu sebabnya radiasi dilakukan
bila tak ada pilihan lain.
Pengobatan berikutnya, kemoterapi; dilakukan bila operasi dan radiasi tidak memungkinkan lagi. Semisal, dalam setahun sudah pernah diradiasi, sehingga tak mungkin dilakukan radiasi lagi karena dikhawatirkan
terjadi komplikasi. Sayangnya, kemoterapi sangat mahal biayanya.

2. KANKER OVARIUM
* Gejala
Perut terasa begah, kembung, tidak nyaman. Tapi gejala ini tidak spesifik. Bahkan, kebanyakan justru tak merasakan gejala apa-apa. Gejala selanjutnya perut membesar, terasa ada benjolan, nyeri panggul, gangguan BAB/BAK akibat penekanan pada saluran pencernaan dan saluran kencing.
Bahkan pada keadaan yang lebih lanjut, dapat terjadi penimbunan cairan di rongga perut sampai mengalir ke rongga dada, sehingga perut tampak sangat membuncit. Terkadang disertai sesak napas. Kalau sudah demikian, biasanya sudah terlambat ditangani.
* Deteksi Dini
Kerap terjadi keterlambatan deteksi akibat sulit mendeteksinya pada stadium dini. Karena lokasi ovarium berada di dalam rongga panggul, sehingga tak terlihat dari luar.
Biasanya kanker ditemukan lewat pemeriksaan dalam. Bila ditemukan kista, maka akan di-USG, apakah terdapat tanda-tanda kanker atau tidak. Memang tak semua kista akan jadi kanker. Kista yang mengarah kanker biasanya berlokus-lokus atau bersekat-sekat. Juga dindingnya tebal dan tidak teratur.
Pemeriksaan lainnya, CT-Scan dan tumor marker (pertanda tumor) lewat pemeriksaan darah.
* Pengobatan
Dilakukan operasi yang dilanjutkan dengan terapi. Komplikasinya, mual, muntah, atau rambut rontok. Kemoterapi tidak diberikan pada penderita stadium awal.

3. KANKER ENDOMETRIUM
* Gejala
Terdapat perdarahan, terutama pada pasca menopause atau di luar masa haid. Juga bila haidnya sangat lama dan banyak. Karena dengan haid lama dan banyak, maka berarti endometriumnya semakin menebal.
* Deteksi Dini
Karena gejala awal berupa perdarahan, maka umumnya penderita lebih awal melakukan pemeriksaan sehingga sebagian besar penyakit ini diketahui pada stadium awal.
Pemeriksaan USG dilakukan untuk melihat ketebalan dinding endometrium. Selanjutnya dilakukan kuretase. Cairannya akan dibawa ke patologi untuk dilihat apakah kanker atau bukan.
* Pengobatan
Operasi yang dilanjutkan dengan radiasi atau kemoterapi.

DIAGNOSA
Untuk membantu menentukan stadium kanker, dilakukan beberapa pemeriksan berikut:
- Sistoskopi
- Rontgen dada
- Urografi intravena
- Sigmoidoskopi
- Skening tulang dan hati
- Barium enema.

PENCEGAHAN
Ada 2 cara untuk mencegah kanker serviks:
1. Mencegah terjadinya infeksi HPV
2. Melakukan pemeriksaan Pap smear secara teratur .
Pap smear (tes Papanicolau) adalah suatu pemeriksaan mikroskopik terhadap sel-sel yang diperoleh dari apusan serviks.
Pada pemeriksaan Pap smear, contoh sel serviks diperoleh dengan bantuan sebuah spatula yang terbuat dari kayu atau plastik (yang dioleskan bagian luar serviks) dan sebuah sikat kecil (yang dimasukkan ke dalam saluran servikal). Sel-sel serviks lalu dioleskan pada kaca obyek lalu diberi pengawet dan dikirimkan ke laboratorium untuk diperiksa.
24 jam sebelum menjalani Pap smear, sebaiknya tidak melakukan pencucian atau pembilasan vagina, tidak melakukan hubungan seksual, tidak berendam dan tidak menggunakan tampon.
Pap smear sangat efektif dalam mendeteksi perubahan prekanker pada serviks.
Jika hasil Pap smear menunjukkan displasia atau serviks tampak abnormal, biasanya dilakukan kolposkopi dan biopsy

Anjuran untuk melakukan Pap smear secara teratur:
- Setiap tahun untuk wanita yang berusia diatas 35 tahun
- Setiap tahun untuk wanita yang berganti-ganti pasangan seksual atau pernah menderita infeksi HPV atau kutil kelamin
- Setiap tahun untuk wanita yang memakai pil KB
- Setiap 2-3 tahun untuk wanita yang berusia diatas 35 tahun jika 3 kali Pap smear berturut-turut menunjukkan hasil negatif atau untuk wanita yang telah menjalani histerektomi bukan karena kanker
- Sesering mungkin jika hasil Pap smear menunjukkan abnormal
- Sesering mungkin setelah penilaian dan pengobatan prekanker maupun kanker serviks.

Untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kanker serviks sebaiknya:
- Anak perempuan yang berusia dibawah 18 tahun tidak melakukan hubungan seksual.
- Jangan melakukan hubungan seksual dengan penderita kutil kelamin atau gunakan kondom untuk mencegah penularan kutil kelamin
- Jangan berganti-ganti pasangan seksual
- Berhenti merokok.
- Pemeriksaan panggul setiap tahun (termasuk Pap smear) harus dimulai ketika seorang wanita mulai aktif melakukan hubungan seksual atau pada usia 20 tahun. Setiap hasil yang abnormal harus diikuti dengan pemeriksaan kolposkopi dan biopsi.
Beberapa peneliti telah membuktikan bahwa vitamin A berperan dalam menghentikan atau mencegah perubahan keganasan pada sel-sel, seperti yang terjadi pada permukaan serviks.
Dari berbagai sumber

Nb. Utk pembaca yg mempunyai informasi medis dan obat-obatan tentang pengobatan kanker rahim, khususnya terapi penyinaran (radioterapi) dan efek sampingnya mohon berbagi pengalaman dgn saya, juga tentang pantangan atau pola makan selama jalannya atau sesudah terapi. Trims….

rian_2802
25th July 2008, 01:40 PM
mbal erin makasih ya informasinya pasti berguna bt kt semua ..........:):):)

r4hm4_76
25th July 2008, 02:00 PM
infonya bermanfaat bgt ....kita jadi lebih tahu ttg kanker rahim

Erin
27th July 2008, 12:13 PM
Sama-sama. Kebetulan ibu saya didiagnosis kanker rahim dan akan menjalani terapi penyinaran... Jadi untuk pembaca yang punya pengalaman atau informasi tentang efek samping, pantangan, pola makan, maupun pengobatan lain, khususnya yang berhubungan dengan radioterapi dan kanker rahim mohon berbagi dengan saya..... Trims…..

dulitem
31st July 2008, 12:42 PM
serem ya... kanker rahim itu.
thanks atas infonya..
Bagi yang sudah pernah melakukan hubungan intim dengan pasangan memang kudu melakukan pap smear untuk mengetahui ada atau tidak virus kanker....

Jauza
6th August 2008, 11:10 AM
Tante saya kena kanker rahim stadium 2b, badannya dah bengkak, dokter ga' mau kasih kemoterapy, trus kami coba cari obat herbal, ketemu deh sama kapsul keladi tikus, setelah minum kira2 2 bln, alhamdulillah tanteku bisa sembuh, bebas dari kanker. Barangkali rekan2 butuh infonya di http://infomedis.wordpress.com