PDA

View Full Version : Semoga Terbuka Hatinya..


AKHMED
13th November 2008, 08:20 AM
Aku lelaki yg lahir dari perempuan dan punya kakak & adik perempuan, tdk sanggup melihat wanita ini terus menerus menderita lahir & batin. Bertaun-taun kuikuti perkembangannya, sampai detik ini ternyata dia masih jg harus bergelut dgn kisah yg sama, meskipun dia tak pernah melontarkan keluhannya. Denpasar kota kecil, kami penduduk lokal saling mengenal satu & lainnya dgn mudah. Kisahnya sudah menjadi pengetahuan kita semua, apalagi wanita ini terkenal di dunia pemberitaan & sosial. Kami semua tau, kali ini dia sedang mengajukan kasasi hak asuh anaknya. Wanita yg mempertahankan keteguhan hatinya di jalan yg benar demi anak2nya dan menjaga perasaan ibunya, tapi tetap diperdaya mantan suaminya yg menutupi semua kemungkarannya dgn tabir agama. Semua ujungnya hanyalah kenikmatan dunia.

Bagaimana kita bisa mengajarkan kpd masyarakat tentang kebenaran, jika yg memberi/menyampaikan telah me-nyia2kan seorang perempuan, ibu dari 3 anak kandungnya (2 lelaki & 1 perempuan), melukai hatinya, tidurnya tdk nyenyak bertaun taun krn sikap, kelakuan dan tindakanya? Bagaimana Anda kaum wanita dan Ibu2 jika diperlakukan spt ini? Bagaimana Anda kaum lelaki jika melihat Ibu/adik/kakak perempuan anda diperlakukan spt ini, tapi selalu mengajarkan indahnya agama & berbuat kebaikan ke orang lain? Juga bagaimana jika yg mengajarkan aqidah ini ternyata tidak memahami tata cara sopan santun ke guru & keluarga gurunya????

Tiap kali bertemu dia sang guru, & melihatnya melamun dg tatapan kosong, berusaha menutupi persoalannya, sedih nian hatiku. Surat ini kubuat krn rasanya cukup sudah kuikut menutupi keburukan ini. Kutakut pabila sang maut datang, tak sanggup aku menjawab pertanyaan sang malaikat maut, kenapa kau tutupi kezoliman ini? Perih & bangga hati ini melihat bagaimana anak cucu gurunya bergotong royong dalam hal keuangan di saat beliau masuk rumah sakit, juga 'tuk kehidupan sehari2. Bergantian menjaga & merawat beliau berdua di rumah tua mereka. Tak pernah terdengar keluhan dari bibir mereka.

Awal pernikahan perempuan dengan 3 anak ini adalah nol, tdk memiliki harta. Krn modal dari orangtua & saudara2 sang istri, perusahaan yg mrk dirikan semakin berkembang. Hingga membesar dan berkembang dari Bali ke Jakarta. Krn iman yg tdk kuat, sang suami tergoda dgn sekretaris perusahaan. Akhirnya sang suami pindah dari Bali ke Jkt dgn alasan ingin menenangkan diri & menjalankan bisnis.

Dgn niat yg tulus sbg seorang ibu dan istri, serta usaha mempersatukan keluarganya, ia memindahkan sekolah anak2 nya ke Jkt agar dekat ayahnya. Istri dan ke-3 anaknya menyusul dari Bali. Mrk tiba dgn membawa dus/box buku2, box pakaian. Akan tetapi dgn teganya mrk diusir dan disuruh kembali ke Bali "segera" pada keesokan paginya, krn ia mau menikahi sekretaris perusahaan di Jkt (menghasilkan 2 anak lelaki dari perkawinan ini), yg mana perusahaan tsb adalah milik mrk bersama. Bisa dibayangkan, dgn ketegaran sbg seorang ibu, dia sendirian harus membawa kembali anaknya 3 orang yg masih kecil dr Jkt ke Bali.

Anak2 bertambah besar dan kebutuhan juga meningkat. Anak2 ini jarang komunikasi dgn Bapaknya, dgn alasan sang Bapak sibuk bisnis. Juga tdk dipenuhinya nafkah bulanan secara teratur. Sang Bapak selalu menyerahkan dana melalui perwakilannya (tdk percaya dgn ibu dari anak2nya), apabila ada pengeluaran yg memang utk keperluan anak2 yg telah dibayarkan oleh sang Ibu, dgn tega sang Bapak tdk akan mengganti biaya tersebut, dgn alasan sang Ibu mengada-ada pengeluaran itu. Padahal kebutuhan tersebut jelas2 memang utk anak2nya. Meskipun sang Ibu telah meminta ijin atas pengeluaran tsb, sang Bapak dgn kepintaran lidahnya akan memutarbalikkan.

Tdk dipenuhinya kebutuhan hidup mrk bukan berarti sang ibu putus asa mencari nafkah. Rejeki Allah memang tdk pernah lari kemana, ada saja yg memberinya pekerjaan sehingga dia bisa membeli tanah dgn mencicil & membangun rumah yg ditempatinya saat ini dg uang hasil keringatnya. Jika diluaran keluar berita bahwa ini adalah hasil pemberian sang mantan, maka tertutuplah pintu sorga bagi sang penyebar berita. Ibu ini tetap menjaga ke-3 anaknya, membimbing dan mendidik, dan penghasilan yg didapatkan sang Ibu bisa menutupi kebutuhan anak2 meskipun dgn susah payah. Sang Bapak menjadi negatif dan dengki melihat bekas istrinya masih bisa survive, ia dgn tega menyusahkan dan menyeretkan kewajiban bulanan yg hanya Rp 2juta itu kpd ibu dari anak2nya.

Krn kehidupan yg semakin sulit, maka bertanyalah sang mantan istri atas gono gini yg tdk diberikan selama 7 tahun. Gono gini ini cukup besar, krn perusahan bersama mereka yg berkembang. Sang mantan suami dgn tega mendatangkan lawyer kepada Ibu anak-anaknya, dimana yg terkecil pada waktu itu baru berumur 6 bulan (saat ini berumur +/- 9 thn). Istri yg buta hukum, tidak tau lawyer pd waktu itu, dipaksa dan disuruh tandatangan dan disuruh menerima begitu saja kemauan sang suami….. dg janji2 palsu bahwa ini sementara, talaq 1, suami perlu menyendiri, perlu waktu, anak2 pasti tidak ditelantarkan… Istri yg tidak tau apa, harus menerima pd waktu itu.

Krn sang istri mulai meminta gono gini atas haknya yg ditelantarkan selama 7 tahun, sang suami dgn kejamnya meminta ditukarkan dgn anaknya, betapa teganya??? Dan betapa tdk adilnya jumlah gono gini yg diterima oleh mantan istri krn ia ketakutan akan kehilangan anak2nya. Dan kini setelah anak2nya besar, diambilnya satu persatu dari ibundanya, diawali dengan anak lelaki pertama, utk dijauhkan dr ibunya yang berusaha mempertahankan dan ingin selalu dekat dengan anak2nya. Disimpannya borok ini sedalam-dalamnya dan serapat2nya, karena sang mantan istri diancam utk tidak membuka dan menyimpan rahasia kelakuan bau ini!!!!

Anak2 adalah milik bersama walau orang tua bercerai, tdk utk dipertukarkan dgn gono gini. Dgn kekuasan, power dan uang yg dimiliki, dimenangkanlah kasusnya pada April 2008 dg cara keji dan fitnah dan berselubung sebagai orang pendakwah, padahal dia hanya seorang trainer HRD yang mengutip Al-Quran dan menjualnya. Setelah wanita ini mengalah atas gono gini, diam2 diambil hak asuh anak2 nya.

Masih bersih dalam ingatan, group pengajian mereka berguru kpd Bapak Habib Adnan, mantan ketua MUI Bali, mengajarkan ilmu yg semua isinya ada di buku pertama ESQ. Disinilah sang istri (ratna) yg dari kecil di Bali dan suaminya pd waktu itu yg dari Jakarta (ary) datang & belajar bersama ke Bapak Habib Adnan (yg kemudian seluruh ilmu, pemikiran dan ide dr Pak Habib diklaim menjadi buku pertama ESQ, padahal itu murni buah pikir gurunya). Juga istilah 165 (1 Ihsan, 6 rukun Iman, 5 rukun Islam), yg dari jaman dulu kala (angkatan bapak & ibu yg sudah seusia pak Habib & pernah mendengar pengajian beliau, pasti mengenal istilah ini, mungkin orang yg mengklaim hak paten pun belum lahir) dikenal sbg pemikiran pak Habib di pengajian2 beliau. Sekarang istilah 165 ini dipergunakan untuk "bisnis" nya, apakah pernah meminta ijin kepada Pak Habib & keluarga beliau?? Kalo dipatenkan, apakah sesuai tatacaranya, apalagi ini masalah aqidah & agama. Bagaimana dgn royalti? Semua seluruh Indonesia tau, ESQ adalah bisnis dan dibuat utk bisnis. Bagaimana bisa berjaya jaya dengan hasil karya orang lain???

Anda semua bisa melihat dengan jelas, bagaimana berbedanya kehidupan pribadi pak Habib & anak2 beliau, dibandingkan dgn menterengnya ESQ. Keluarga ini amat sangat soleh/solehah & jauh dari hingar bingar duniawi, pekerja keras, tetapi yg namanya hidup kan tetap perlu makan/minum juga kesehatan bapak & Ibu Habib perlu perhatian lebih. Pak Habib berkali2 masuk rumah sakit, aku tau kalo anak cucu beliau bergotong royong dlm hal biaya. Ibu jg sempat masuk rumah sakit bersamaan dg bapak, keluarga betul2 terlihat bekerja keras. Kudengar kalo sang murid ini mau membantu, entah memang membantu seluruhnya atau seadanya, wallahualam. Rumah beliau jg hasil gotong royong anak cucu, meskipun tambal sulam & masih bocor sana sini, tp keluarga ini tetap terlihat mensyukuri. Meskipun secara ekonomi mrk tdk berlebih, tapi mrk masih memikirkan utk membantu umat melalui yayasan pak Habib (www.habibadnan10.com).

Bagaimana mungkin menjual pemikiran orang lain / gurunya demi kepentingan pribadi? Masih kah kita biarkan ini terjadi terus? Untuk mentraining kita dgn kedok semua ini, dgn kata-kata halus, bagus, rapi, indah, tapi dibelakang itu terjadi hal2 yang menyedihkan, melukai, memiriskan, dan mengambil hak orang lain?? Akankah kita biarkan?


“jangan kamu campurkan yang hak dg yang batil dan kamu sembunyikan yg hak itu sedang kamu mengetahui"

Akhmed Gumilar : akhmedgumilar@yahoo.com

phita
22nd November 2008, 08:47 AM
Masya Allah, Astaghfirullahal'adzhiim..............
semoga keluarga besar istri serta guru yang telah di dzholiminya diberi kekuatan dan kesabaran yang besar sangat besar oleh Allah SWT karena saya yakin dengan kesabaran yang dipunya mereka yang didzholimi akan diganjar setimpal oleh Allah SWT di syurga, amin.

Percayalah dengan kesabaran yang kita punya, Allah akan berikan rejeki yang lebih melimpah di dunia dan di akhirat, amin, karena rejeki Allah yang punya, mau sedunia manusia mencegah, jika Allah berkehendak itu rejeki datang pada kita, tak ada manusia yang bisa menghalangi, sebanyak apapun jumlahnya, kun fa yakuun!

Semoga ustadz Habib diberi kesehatan dan kekuatan lahir batin untuk terus berdakwah
di jalan Allah, juga keluarga diberi kesabaran yang melimpah.

Memang benar mas, manusia itu kadang hanya bangga dengan pengetahuan segudang yang mereka punya tentang agama, tapi kalo sudah berhubungan dengan 3 TA harta, tahta, wanita, semua collapse...lupa bahwa ada yang namanya hari akhir.

Satu hal yang patut saya pelajari dan kita semua pelajari, bahwa sesedikit apapun ilmu yang kita punya baik itu agama dan yang lainnya, amalkanlah, niscaya akan lebih bermanfaat dan lebih maslahat dunia dan akhirat, untuk sendiri, keluarga dan untuk banyak orang, lebih-lebih ilmu untuk selalu saling menghargai perasaan sesama manusia.

200785
22nd November 2008, 09:44 AM
wah da kabar n crita paan niyh??
ada rangkuman-nya ga??
pengen tau niy...:D