PDA

View Full Version : [Novel Horror] Petaka Lereng Lawu


harlockmail
25th November 2008, 12:58 PM
mohon maaf

saya mencoba membuat nover bersambung
mohon dinikmati sekalian dinilai kalau sempat
di blog saya

harlockwords.wordpress.com

sudah sampai Bab X

thankyu

harlockmail
25th November 2008, 01:03 PM
Petaka Lereng Lawu
Diarsipkan di bawah: Horor, Novel, Petaka Lereng Lawu — harlockwords @ 4:36 am Sunting Ini
Tags: Horor, Novel, Lawu



PROLOG



“ Kulo wangsul riyin pak “ (Saya pulang dulu)

“ Yo….eh Dar, jangan lupa bahan bahan untuk penyemprotan besok disiapkan subuh, Pak Peni mau kesini besok siang” ujar Marmo

“ Nggih pak “



Sore sudah menjelang maghrib, cuaca mulai gelap perlahan. Marmo menuju rumah panggung kecil di pinggir pematang untuk mengepaki bawaannya. Setelah semua siap, segera dia berjalan melewati pematang pinggiran kebun menuju sepeda motor yang dia parkir di ujung petak kebun teh untuk segera pulang.



Tiba-tiba dari arah hutan pinus di pinggir kebun, sekelebat bayangan putih meluncur tajam hampir meraih kepalanya. Dengan reflek cepat Marmo bergerak merunduk.



“ Astaghfirullah!!! Apa itu?”



Bayangan itu berhenti dan berdiri diatas pohon pinus sambil menatap Marmo. Matanya menyala merah tajam. Samar samar Marmo menghirup bau yang menyesakkan. Tak menunggu lama, Marmo berlari kencang menuju sepeda yang dia parkir sambil mengucapkan lafal-lafal yang dia hafal. Bayangan putih itu berterbangan sembari menimbulkan suara berdesing mengejar Marmo. Marmo tidak berani untuk menoleh kebelakang. Dia pacu kecepatannya berlomba dengan detak jantungnya yang berdegub keras.



Marmo merasa belum lama para anak buahnya meninggalkan tempat itu. Dia berharap bisa segera menyusul mereka. Tetapi Marmo merasa jarak yang biasa dia tempuh jadi lebih jauh dari biasanya. Langkah kaki yang dia rasa telah mencapai kecepatan maksimum, tidak bisa membuat dia segera mencapai motornya. Bayangan itu semakin mendekat ke arahnya. Marmo merasa jemari jemari mahluk itu telah berada dekat sekali dengan tengkuknya.



“AAARRGG!!!!…”



Marmo terjatuh berguling tepat di sebelah ban motor yang dia parkir. Matanya memejam sejenak, dan dia buka untuk melihat sekeliling. Dengan gugup dia menoleh searah barisan pohon pinus di seberangnya. Dia melihat sorot mata merah di atas dahan pinus yang bergoyang ditiup angin senja itu.

Seperti mengejek, mahluk itu hanya memandang Marmo tanpa ada tanda tanda untuk terbang ke arahnya.



“ Ya Allah…..jangan aku ya Allah…..jangan aku…” ujar Marmo



Seperti tersadar, Marmo bangkit dan segera menstater motornya untuk secapatnya enyah dari tempat itu. Dia pacu motornya tanpa menghiraukan jalanan makadam yang penuh dengan batu. Samar samar dia mendengar suara teriakan melengking dan menjauh dari arah belakangnya. Dia kebut hingga memasuki gapura desanya dan secepatnya menuju rumah tinggalnya tanpa mengurangi kecepatan sedikitpun. Beberapa orang kampung yang melihat menampilkan ekspresi yang bermacam macam. Marmo tidak memperdulikan itu. Hanya nyawanya yang dia pedulikan. Marmo ingin secepatnya masuk rumah dan menguncinya.



Motor itu sampai di depan rumah. Marmo tidak peduli sandaran motornya sudah turun atau belum. Dia lemparkan motornya di tengah halaman lalu menghambur masuk. Dengan gugup Marmo mengunci pintu. Mulutnya yang bergetar hebat tak berhenti komat kamit. Peluh bercampur air mata menetes di seluruh mukanya.



“ Ada apa mas? “ Istinya yang baru keluar dari dapur bertanya kepadanya.

“ ………” Marmo diam seribu bahasa.

“……..Tini….walau ada apapun……jangan kau buka pintu ini…jangan sekali kali ! ….” Ucap Marmo kemudian dengan terbata bata



Marmo lari menuju kamarnya. Sang istri terbengong, lalu menyusulnya ke kamar. Tak diduganya, kamar itu terkunci dari dalam.



BRAKK!!..BRAK!!…BRAK!!!



“ Mas!!!….Mas!!! Buka pintu, Mas!! ” Tini berteriak sambil menggedor pintu.

“ Jangan, jangan……” Tini seperti ingat sesuatu “ Maaass….!!! Maaasss…!! “



Dari dalam kamar terdengar lenguhan. Dan….



“ AAKKHH…!! ..Ampuun….!! Ya Allaaaahh……”

“ Maaaaaaaasss..!!! Tooloooooooong….Tolonnnnngggg!!!!!!!! “ Tini berteriak histeris sehingga mengundang beberapa orang kampung datang kerumahnya.

“ Tolong pak….Mas Marmo didalam….”

“ Ada apa?? “

“ Mas Marmo, pak….”



“ HOEEKKK…!!!! HUKH….AAAARRGGHH!!! “ Lenguhan Marmo semakin keras terdengar



Tanpa basa basi lagi para penduduk kampung segera mendobrak pintu kamar Marmo



BRUAAK!!!!….



Penduduk kampung menghambur ke dalam kamar Marmo. Suatu pemandangan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata orang normal. Darah berceceran di sekitar pembaringan. Marmo terlihat dalam posisi bersujud dengan tangan kiri memegangi perut sedangkan tangan kanan memegangi leher. Kepalanya menoleh kekiri. Matanya membeliak keatas. Darah segar menetes di sisi mulutnya. Sudah bisa dipastikan kalau nyawanya sudah tidak tinggal lagi di raganya.



Tini menggelosor kebawah setelah melihat keadaan suaminya yang seperti itu. Penduduk kampong tercengang. Sebagian menggeleng-gelengkan kepala.



“ Mbang, panggil pak lurah……Ya Allah….satu lagi…” ujar salah satu warga.

“ Mau sampai kapan……”

harlockmail
25th November 2008, 01:06 PM
Nopember 3, 2008

Petaka Lereng Lawu

Diarsipkan di bawah: Horor, Novel, Petaka Lereng Lawu — harlockwords @ 5:40 am Sunting Ini
Tags: Horor, Lawu



Bab I



“ Ham…..Riham!! “



Seorang ibu paruh baya terlihat berjalan tergesa melintasi ruang keluarga sebuah rumah di pinggiran kota. Wajahnya tampak gusar. Kerutan tanda dimakan usia terlihat semakin jelas menghiasi raut sang empunya wajah. Dia menjelajahi setiap sudut rumah. Terlihat kecemasan yang hebat telah melanda perasaannya.



“ Rihaam!! Kamu dimana nak? “ teriaknya.

“ Yaa bu! “ seorang pemuda yang hanya berkain sarung keluar dari kamar mandi dan menjawab sambil menghanduki rambutnya yang panjang sebahu “ Ada apa pagi pagi kok teriak teriak, bu ? aku baru dari kamar mandi “ sahutnya.

“ Ham….budemu nak….Bude Darno….meninggal subuh tadi….”



Setelah memberi tahu Riham apa yang terjadi, sang ibu tak kuasa menahan emosinya. Tangisnya pecah. Ia jatuh bersimpuh dengan bersandarkan tembok rumah. Kedua telapak tangannya menutupi seluruh wajahnya. Riham yang sejenak terpukul mendengar berita itu, segera menghampiri ibunya yang tengah histeris.



“ Sudah bu, sabar, sabar bu, ingat kesehatan ibu…….”



Mulutnya mencoba menenangkan hati ibunya walaupun saat mengucapkan kalimat itu tenggorokannya terasa tercekat. Tampak buliran air mata merebak di sekitar kelopak mata Riham. Ia berusaha menahan perasaan duka, tetapi berita mendadak itu terasa memaksa dadanya untuk berguncang dan memompa aliran emosi hingga ke pelupuk matanya.



“ Semua sudah kehendak Allah, kita tak bisa menghindarinya….. “ ujarnya (“ Seperti saat kita kehilangan Ayah…”) Riham melanjutkan dalam hatinya. Tak tertahankan kesedihan itu hingga Riham mengingat saat Ayahanda meninggalkannya tiga tahun lalu. (“ Belum genap seribu hari Ayah…Bude Darno…..Ya Allah…ampunkanlah dosaku…”) benak Riham terus berjalan. Airmata yang semula hanya menggenang akhirnya terjatuh juga dipipinya. Tangannya tetap merangkul pundak ibundanya yang terus menangis histeris.



“ Sudahlah bu….tak baik kita terus berduka, lebih baik kita mendoakan agar amalnya diterima Allah Yang Maha Kuasa. Tentu bude tak ingin kita seperti ini bila beliau melihat. Kita serahkan saja pada Allah “



Riham berusaha menenangkan hati ibundanya yang gundah gulana. Ia terus menasihati ibundanya hingga sang ibu menghentikan tangisnya. Sang ibu yang sepeninggal suaminya, ayahanda Riham, telah mengidap penyakit hati kronis yang tidak memperbolehkannya untuk berpikir berat dan kecapekan.



“ Ingat sakit ibu, jangan sampai kambuh lagi bu…” lanjutnya



Perlahan sang ibu menghentikan tangisnya. Riham bangkit menuju meja makan dan menuangkan segelas air putih. Ia membawa gelas itu kearah ibunya dan menyodorkannya dengan lembut.



“ Ini bu, diminum dulu…….kapan berita itu ibu terima? “

“ Si Tono tetangga Pakde Darno meng-SMS ibu tadi, ibu baru baca sepulang dari pasar. Ada miskol beberapa dari nomor Ngawi “ dengan sesenggukan ibu Riham menjelaskan.

“ Sakit apa bude..? “

“ Ibu ndak tahu nak…”

“ Ada kabar dimakamkan jam berapa ? “

“ Tidak ada…”

“ Baik, berapa nomor telepon mas Tono? Habis ini ku telepon dia “

“ Lihat di ha-pe ibu di meja kamar….”



Sang ibunda berdiri dan beranjak menuju meja makan. Ia menuangkan lagi segelas air putih dan meneguknya. Riham terlihat bergegas masuk ke kamar ibunya dan segera keluar menuju kamarnya sambil membawa sebuah ha-pe. Didalam kamar ia menuju sebuah meja kecil dimana ha-penya terlihat tersambung ke sebuah adaptor charger yang menempel di stopkontak dinding. Riham mengutak utik ha-pe ibunya. Ditujunya menu pembuka pesan pendek. Dilihatnya sebuah pesan terbaru yang memuat rangkaian nomor telepon pengirim. Lalu dia memijit beberapa tombol angka di ha-penya sendiri. Sesaat kemudian telepon tersambung.



“ Halo! ”

“ Ya halo, sopo iki ? “ sahut suara dari seberang.

“ Aku mas Ton. Riham, ponakane Bude Darno ? “

“ Oalah dik Riham, Iyo dik, bude sampeyan sedo mau subuh (budemu meninggal tadi subuh) “

“ Aku wes di kandani ibu mas, gerah opo ? (Aku sudah diberitahu ibu mas, sakit apa?) “

“ Ndadak iki dik, Pakde sampeyan pirsone pas bar sholat Subuh, wong wingi yo sehat (mendadak dik, pakdemu tahunya setelah sholat Subuh, orang sebelumnya juga sehat sehat saja) “

“ Yo wis mas, dimakamkan kapan ? “

“ Sebentar jam sembilan siang “

“ Dilut ngkas aku pe budal (sebentar lagi aku berangkat), tolong kabari pakde ya “

“ Yo dik, nanti pakde Darno aku kabari “

“ Suwun yo mas kabarnya “

“ Podo-podo dik (sama-sama), “



Riham menutup teleponnya. Ia bergegas memakai bajunya dan segera keluar kamar.