View Full Version : Mencegah Balita Keracunan di Rumah
wannaluvecho
4th December 2008, 06:06 PM
Ada beberapa hal sebagai orangtua yang dapat dilakukan, yaitu:
* Membiasakan anak memerhatikan kebersihan tangan, sebab keracunan makanan sangat menular. Ia juga harus selalu mencuci bersih tangannya sehabis buang air besar.
* Jagalah kebersihan di dalam rumah sehingga tidak ada sisa-sisa makanan yang terjangkau si kecil dan dapat dikonsumsinya ketika sudah tidak layak makan.
* Simpanlah bahan-bahan pembersih rumah yang mungkin jadi sumber racun di tempat tertutup yang tidak mungkin terjangkau oleh si kecil.
* Biasakan menyimpan makanan matang ke dalam kulkas. Kalaupun mau dihangatkan, pastikan panasnya merata. Karena, Salmonella (yang sering jadi ‘sebab’ keracunan makanan) biasanya ‘senang’ dan tumbuh subur di makanan yang hangat. Tapi, bakteri ini akan mati pada temperatur yang tinggi.
* Masaklah makanan sampai benar-benar matang. Artinya, matangnya harus merata ke dalam bahan makanan.
* Belilah daging dan makanan hasil laut di tempat yang dapat dipertanggungjawabkan kebersihannya.
* Jangan biarkan si kecil makan daging mentah. Daging yang sama sekali tidak diolah merupakan sasaran empuk bakteri penyebab keracunan makanan.
*Jangan berikan madu pada bayi di bawah usia 1 tahun. Dikhawatirkan, madu mengandung bakteri Clostridium botullinum yang dapat menyebabkan si kecil keracunan.
* Ketika membeli makanan dalam kemasan, perhatikan kaleng atau tutupnya. Apakah masih mulus ataukah sudah terbuka? Apakah kalengnya agak menggelembung atau tidak? Jangan sekali-kali memilih makanan yang kemasannya cacat atau kalengnya menggelembung. Bisa jadi, makanan tersebut sudah terkontaminasi bakteri.
* Cerdaslah ketika membaca label makanan dalam kaleng, supaya ketahuan masa kedaluwarsa dan isinya aman dimakan. Telah ada peraturan bahwa label makanan di Indonesia juga dilengkapi dengan bahasa Indonesia meskipun merupakan bahan makanan impor. Karena itu, kalau tidak ada bahasa Indonesianya, sebaiknya tak perlu Anda beli. Label yang baik biasanya memuat nama merek, nama/alamat produsen, nomor pendaftaran, tanggal kedaluwarsa, berat/volume produk, komposisi produk. Selain itu, juga memuat informasi nilai gizi, total lemak, senyawa atau elemen lain, serta daily value (prosentase penyumbang gizi dalam kebutuhan nutrisi sehari-hari).
ndul'smom
7th December 2008, 05:57 PM
betul sekali jeung WLC, memiliki balita memang harus lebih waspada. saya juga mau nambahin sedikit, pastikan juga tanaman di kebun/ dalam rumah itu child friendly, banyak tanaman yang kita anggap tanaman biasa tapi sebenarnya mengandung zat yang bisa menyebabkan allergi bahkan keracunan pada anak anak.
wewet9867014
7th December 2008, 10:40 PM
banama36 (http://banama36.blog.com/)aiji57 (http://aiji57.blog.com/)gangguo210 (http://gangguo210.blog.com/)agenting56 (http://agenting56.blog.com/)baxi59 (http://baxi59.blog.com/)
wewet9867014
8th December 2008, 03:02 AM
fengshenbang (http://fengshenbang.blog.com/)jiewu98 (http://jiewu98.blog.com/)bacailuona (http://bacailuona.blog.com/)xinxilan01 (http://xinxilan01.blog.com/)riben668 (http://riben668.blog.com/)
200785
8th December 2008, 01:06 PM
*Jangan berikan madu pada bayi di bawah usia 1 tahun. Dikhawatirkan, madu mengandung bakteri Clostridium botullinum yang dapat menyebabkan si kecil keracunan.
koq bisa mengandung bakteri yah???:rolleyes::confused:
chichi_deh
9th December 2008, 04:15 PM
*Jangan berikan madu pada bayi di bawah usia 1 tahun. Dikhawatirkan, madu mengandung bakteri Clostridium botullinum yang dapat menyebabkan si kecil keracunan.
Iya ya Mbak, padahal madu kan baik juga buat anak.
Knapa mesti gak boleh ???
Apa memang sudah pasti ya Mbak Wanna klo madu itu mengandung bakteri Clostridium botullinum yang dapat menyebabkan si kecil keracunan. :confused:
wannaluvecho
9th December 2008, 07:22 PM
Bakteri Clostridium botulinum memiliki bentuk spora. Spora ini dapat bertahan dalam keadaan dorman (tidur) selama beberapa tahun dan tahan tehadap kerusakan.
Jika lingkungan di sekitarnya lembab, terdapat cukup makanan dan tidak ada oksigen, spora akan mulai tumbuh dan menghasilkan toksin.
Beberapa toksin yang dihasilkan Clostridium botulinum memiliki kadar protein yang tinggi, yang tahan terhadap pengrusakan oleh enzim pelindung usus.
Jika makan makanan yang tercemar, racun masuk ke dalam tubuh melalui
saluran pencernaan, menyebabkan foodborne botulism. Sumber utama dari
botulisme ini adalah makanan kalengan.
Sayuran, ikan, buah dan rempah-rempah juga merupakan sumber penyakit ini.
Demikian juga halnya dengan daging, produki susu, daging babi dan unggas.
Wound botulism terjadi jika luka terinfeksi oleh Clostridium botulinum.
Di dalam luka ini, bakteri menghasilkan toksin yang kemudian diserap masuk
ke dalam aliran darah dan akhirnya menimbulkan gejala.
Infant botulism sering terjadi pada bayi berumur 2-3 bulan.
Berbeda dengan foodborne botulism, infant botulism tidak disebabkan
karena menelan racun yang sudah terbentuk sebelumnya. Botulisme ini disebabkan karena makan makanan yang mengandung spora, yang kemudian tumbuh dalam usus bayi dan menghasilkan racun.
Penyebabnya tidak diketahui, tapi beberapa kasus berhubungan dengan
pemberian madu.
Clostridium botulinum banyak ditemukan di lingkungan dan banyak kasus
yang merupakan akibat dari terhisapnya sejumlah kecil debu atau tanah
PENCEGAHAN
Spora sangat tahan terhadap pemanasan dan dapat tetap hidup selama
beberapa jam pada proses perebusan. Tetapi toksinnya dapat hancur dengan
pemanasan, Karena itu memasak makanan pada suhu 80� Celsius selama 30 menit, bisa mencegah foodborne botulism.
Memasak makanan sebelulm memakannya, hampir selalu dapat mencegah
terjadinya foodborne botulism. Tetapi makanan yang tidak dimasak dengan
sempurna, bisa menyebabkan botulisme jika disimpan setelah dimasak,
karena bakteri dapat menghasilkan toksin pada suhu di bawah 3� Celsius (suhu lemari pendingin).
Penting untuk memanaskan makanan kaleng sebelum disajikan. Makanan
kaleng yang sudah rusak bisa mematikan dan harus dibuang. Bila kalengnya
penyok atau bocor, harus segera dibuang.
Anak-anak dibawah 1 tahun sebaiknya jangan diberi madu karena mungkin
ada spora di dalamnya.
wannaluvecho
9th December 2008, 07:43 PM
Madu sering kali diberikan pada bayi saat perkenalan dengan makanan selain ASI atau PASI oleh sebagian masyarakat. Bahkan ada yang memberikan madu pada bayi yang baru saja lahir. Biasanya madu tersebut dioleskan pada bibir bagi bayi yang baru lahir, atau disuapkan langsung dengan sendok, ada pula yang dicampurkan dengan bubur bagi bayi yang sudah diberikan makanan tambahan. Mereka percaya madu ‘baik dan aman’ bagi bayi mereka.
Namun ternyata anggapan ‘baik dan aman’ tersebut ternyata tidak benar, penelitian modern menemukan, madu asli ternyata mengandung bakteri clostridium botulinum yang dibawa oleh kaki kaki tawon. Dalam keadaan tidak higienis, spora tersebut menjadi racun yang jika dikonsumsi oleh bayi berumur < 12 bulan akan menyebabkan penyakit botulism. Penyakit yang masih jarang terjadi dan terindikasikan. Penyakit tersebut dapat menyebabkan bayi menjadi konstipasi, sulit makan, cengeng, terhambatnya pertumbuhan dan lain-lain bahkan kematian (sedikit kasus).
Clostridium botulinum adalah nama jenis bakteri yang umumnya ditemukan di tanah dengan kondisi yang kandungan oksigennya sangat rendah. Dalam bentuk spora, bakteri tersebut hanya dapat bertahan hidup hingga suatu saat bakteri tersebut dapat berkembang biak pada kondisi tertentu yang menghasilkan racun Botulinum. Terdapat 7 jenis racun botulism di kategorikan dari A - G dan hanya jenis A, B, E dan F yang berefek terhadap kesehatan manusia. Penemu bakteri ini adalah Robert Koch (Fisikawan Peraih Nobel 1905).
Di California antara tahun 1976 - 1983, dilaporkan oleh CDC, terdapat 395 kasus pasien yang berumur 2 s/d 38 minggu, 11 diantaranya meninggal. Jenis racun botulism/botulinal yang diidentifikasi adalah jenis A (50%), B(49%) & F. Dari data selama 2001-2002 di kota New York kasus yang terjadi adalah 2-68 kasus per 100.000 kelahiran bayi. Kasus tertinggi tertinggi terjadi pada bayi < 6 bulan dimana kasus paling fatal < 1%. Di Amerika dari 110 yang dilaporkan setiap tahunnya, 25% diantaranya disebabkan dari makanan.
Kesimpulan yang dapat diambil dan informasikan adalah sangat tidak disarankan untuk memberikan bayi di bawah <1 tahun dengan madu maupun makanan yang didalamnya mengandung madu. Bahkan industri makanan bayi untuk umur < 1 tahun pun tidak diperkenankan untuk memproduksi makanan bayi yang mengandung madu.
Data kasus penyakit ini di Indonesia, belum ada. Informasi ini dirasakan sangat perlu untuk kita berbagi pengalaman karena begitu banyaknya iklan madu yang “menjelaskan” sekaligus “menyesatkan ” bahwa madu baik untuk balita adalah sangat mengkhawatirkan.
200785
10th December 2008, 10:07 AM
tapi menurut aqu, madu tuh tetep baik koq bagi kesehatan...
mungkin tempat madu-y itu yg jadi sumber penyakit...
klo tempat-y dari kaleng kan emang gampang korosi gituh...
tp ga tau jg siyh...:confused:
vBulletin® v3.7.5, Copyright ©2000-2012, Jelsoft Enterprises Ltd.