Erin
9th August 2008, 12:19 AM
Apakah anak anda suka membuat coret-coretan bergambar? Eits... jangan buru-buru marah pada anak anda, siapa bilang komik hanya bisa jadi pembunuh waktu luang? Kalau ditekuni bisa jadi profesi menarik, lho!
Kalau lagi main ke toko buku, cobalah untuk mengingat judul-judul komik yang dipajang. Sepertinya sih mustahil, mengingat jumlahnya yang bisa ratusan judul dan akan selalu bertambah dari hari ke hari. Komik memang punya penggemar setia yang luas jangkauannya. Tua-muda, cowok-cewek, sama-sama menyukai cerita bergambar ini, karena pada dasarnya gambar memang lebih mudah dicerna. Komik bisa jadi sarana untuk menyampaikan sesuatu agar lebih gampang diterima.
Selain itu komik juga bisa membuka wawasan dan pengetahuan kita. Pepeng, drumer Naif yang juga jadi "tukang" komik, mengakui bahwa dirinya jadi tahu budaya-budaya negara lain karena masa kecilnya dijejali dengan komik Tintin karangan Herge. Bagi Wahyu Aditya, pencipta video klip Bayangkanlah milik Padi, komik malah dimanfaatkan untuk menutupi kekurangannya.
Nyaris semua komikus yang kondang selalu mengawali kariernya dari hobi. Fujimoto Hiroshi dan Abiko Motoo, kreator manga (komik Jepang) Doraemon dan Ninja Hattori, ternyata sudah gila komik sejak SD. Malah mereka berdua sudah kerja bareng sejak itu. Duet ini kemudian kita kenal dengan nama Fujiko Fujio.
Setali tiga uang dengan mereka, Pepeng, Dyotami, dan Wahyu Aditya juga mengawali "karier" di perkomikan karena berawal dari suka, kemudian jadi hobi, terus jadi profesi. Dyotami mulai suka komik sejak dikenalkan dengan komik Tintin. Pepeng Naif pun ikut "teracuni" si rambut jambul ini.
Sejak itu mereka pun mulai mencoba-coba untuk membuat komik. Wahyu Aditya mulai iseng membuat coretan-coretan komik di buku ketika kelas 6 SD. Lewat komik yang diberinya judul Sinoe yang hanya diedarkannya sebatas teman di kelas, Adit mulai eksis sebagai komikus kecil-kecilan. Menginjak SMP, Adit juga dipercaya untuk menggawangi rubrik komik di majalah sekolahnya.
Sementara itu, Dyo mulai berani mencoba membuat komik sejak manga menyerbu dunia komik kita sekitar tahun 1989. Karyanya pun mulai dikenal teman-temannya begitu muncul di kolom komik di majalah dinding sekolah.
Karya amatir Adit dan Dyo ini ternyata disukai banyak teman sekolahnya. Teman-teman Adit sewaktu SD sampai mau mengerjakan tugas sekolahnya demi sebuah komik. Malah ketika kuliah di Australia sekitar tahun 2000, majalah pelajar Indonesia di sana mempercayakan rubrik komik kepadanya.
Semangat juang teman-teman kita ini ternyata kuat. Meski sadar bahwa komik lokal masih jadi anak tiri industri komik nasional, mereka pantang menyerah. Satu-satunya jalan yang mereka lalui adalah lewat jalur independen. Ketika bergabung ke Studio Komik Magic pada tahun 1998, Dyo mulai merintis komik indie bareng teman-temannya di MKI (Masyarakat Komik Indonesia).
Pepeng juga sempat memikirkan hal yang sama sejak kumpul-kumpul dengan teman-teman kuliahnya di IKJ. Sayang ide ini belum sempat dijalankannya karena keburu sibuk dengan Naif. Begitu pula Adit, ia juga merintis karier komikusnya lewat jalur independen. Hanya saja karyanya lebih berkembang lagi, yaitu animasi. Film animasi pendek karyanya yang berjudul Pupu Project malah berhasil menggondol gelar Film Animasi Terbaik dalam Festival Film Animasi Indonesia 2001.
Kini bisa dibilang karya mereka tidak perlu menyusup lewat jalur-jalur underground lagi. Dyo saat ini sedang asyik dengan proyek komik Olin di penerbit Mizan. Pepeng yang meski lebih kita kenal sebagai musisi, dipercaya menjadi freelancer di beberapa production house untuk membuat storyboard. Sedangkan Adit masih tetap setia dengan jalur animasi dan festivalnya. Wuih, bangga enggak sih?
Kalau lagi main ke toko buku, cobalah untuk mengingat judul-judul komik yang dipajang. Sepertinya sih mustahil, mengingat jumlahnya yang bisa ratusan judul dan akan selalu bertambah dari hari ke hari. Komik memang punya penggemar setia yang luas jangkauannya. Tua-muda, cowok-cewek, sama-sama menyukai cerita bergambar ini, karena pada dasarnya gambar memang lebih mudah dicerna. Komik bisa jadi sarana untuk menyampaikan sesuatu agar lebih gampang diterima.
Selain itu komik juga bisa membuka wawasan dan pengetahuan kita. Pepeng, drumer Naif yang juga jadi "tukang" komik, mengakui bahwa dirinya jadi tahu budaya-budaya negara lain karena masa kecilnya dijejali dengan komik Tintin karangan Herge. Bagi Wahyu Aditya, pencipta video klip Bayangkanlah milik Padi, komik malah dimanfaatkan untuk menutupi kekurangannya.
Nyaris semua komikus yang kondang selalu mengawali kariernya dari hobi. Fujimoto Hiroshi dan Abiko Motoo, kreator manga (komik Jepang) Doraemon dan Ninja Hattori, ternyata sudah gila komik sejak SD. Malah mereka berdua sudah kerja bareng sejak itu. Duet ini kemudian kita kenal dengan nama Fujiko Fujio.
Setali tiga uang dengan mereka, Pepeng, Dyotami, dan Wahyu Aditya juga mengawali "karier" di perkomikan karena berawal dari suka, kemudian jadi hobi, terus jadi profesi. Dyotami mulai suka komik sejak dikenalkan dengan komik Tintin. Pepeng Naif pun ikut "teracuni" si rambut jambul ini.
Sejak itu mereka pun mulai mencoba-coba untuk membuat komik. Wahyu Aditya mulai iseng membuat coretan-coretan komik di buku ketika kelas 6 SD. Lewat komik yang diberinya judul Sinoe yang hanya diedarkannya sebatas teman di kelas, Adit mulai eksis sebagai komikus kecil-kecilan. Menginjak SMP, Adit juga dipercaya untuk menggawangi rubrik komik di majalah sekolahnya.
Sementara itu, Dyo mulai berani mencoba membuat komik sejak manga menyerbu dunia komik kita sekitar tahun 1989. Karyanya pun mulai dikenal teman-temannya begitu muncul di kolom komik di majalah dinding sekolah.
Karya amatir Adit dan Dyo ini ternyata disukai banyak teman sekolahnya. Teman-teman Adit sewaktu SD sampai mau mengerjakan tugas sekolahnya demi sebuah komik. Malah ketika kuliah di Australia sekitar tahun 2000, majalah pelajar Indonesia di sana mempercayakan rubrik komik kepadanya.
Semangat juang teman-teman kita ini ternyata kuat. Meski sadar bahwa komik lokal masih jadi anak tiri industri komik nasional, mereka pantang menyerah. Satu-satunya jalan yang mereka lalui adalah lewat jalur independen. Ketika bergabung ke Studio Komik Magic pada tahun 1998, Dyo mulai merintis komik indie bareng teman-temannya di MKI (Masyarakat Komik Indonesia).
Pepeng juga sempat memikirkan hal yang sama sejak kumpul-kumpul dengan teman-teman kuliahnya di IKJ. Sayang ide ini belum sempat dijalankannya karena keburu sibuk dengan Naif. Begitu pula Adit, ia juga merintis karier komikusnya lewat jalur independen. Hanya saja karyanya lebih berkembang lagi, yaitu animasi. Film animasi pendek karyanya yang berjudul Pupu Project malah berhasil menggondol gelar Film Animasi Terbaik dalam Festival Film Animasi Indonesia 2001.
Kini bisa dibilang karya mereka tidak perlu menyusup lewat jalur-jalur underground lagi. Dyo saat ini sedang asyik dengan proyek komik Olin di penerbit Mizan. Pepeng yang meski lebih kita kenal sebagai musisi, dipercaya menjadi freelancer di beberapa production house untuk membuat storyboard. Sedangkan Adit masih tetap setia dengan jalur animasi dan festivalnya. Wuih, bangga enggak sih?