|
|
#1 |
|
Senior Member
User ID: 564
Join Date: Sep 2008
Location: serang baru
Posts: 1,163
Thanks: 19
Thanked 5 Times in 5 Posts
![]() |
Kembali bekerja atau tidak setelah melahirkan merupakan dilema yang umum dihadapi para ibu bekerja. Zaman sekarang sebagian besar para ibu memilih kembali bekerja setelah melahirkan, meski menyadari kembali bekerja berarti harus mempekerjakan tenaga pengasuh untuk merawat anak selama ibu bekerja.
Teresa Wilson, penulis buku Working Parents Companion sekaligus tutor diskusi pascapersalinan pada National Childbirth Trust (NCT) mengemukakan, ada empat alasan yang paling umum melatari ibu memilih kembali bekerja setelah melahirkan, antara lain karena merasa terisolir. Ibu bekerja umumnya merasa sudah akrab dengan lingkungan pekerjaannya, sehingga ketika tinggal beberapa bulan di rumah dalam rangka cuti melahirkan, dia merasa tidak mengenal secara baik orang-orang di sekitar rumahnya. Ibu yang sudah terbiasa bekerja di kantor butuh penyesuaian untuk menghadapi kehidupan yang sama sekali berbeda dengan kehidupannya di tempat kerja. Kehadiran bayi, tentu mengacaukan spontanitas mereka untuk beberapa waktu lamanya, dan kondisi ini tak mungkin ditolak. “Sehingga, tidaklah mengherankan bila para ibu memilih kembali bekerja setelah melahirkan untuk mendapatkan kembali kehidupan dunia kerja yang sudah sangat diakrabinya,” kata Teresa dalam bukunya. Sebagian besar ibu yang kembali bekerja, bukan karena mereka ingin bekerja. Bagaimanapun, perasaan bersalah meninggalkan anak diasuh orang lain tetaplah ada. Namun, mereka juga tidak dapat menutup mata dengan kenyataan bahwa biaya hidup zaman sekarang sangatlah tinggi. “Ini kenyataan yang kerap dihadapi oleh para ibu sebagai pengelola keuangan keluarga. Tidak ingin kesulitan dengan uang yang ada, para ibu banyak yang memilih kembali bekerja setelah melahirkan anak mereka,” terang Teresa. Selain dua hal diatas, Teresa juga mengungkap alasan lain yang membuat ibu kembali bekerja usai cuti melahirkan yaitu mendapatkan jaminan pada hari tua karena kesadaran bertanggung jawab atas nasibnya sendiri dan pengalaman memiliki ibu yang bekerja sebagai panutan semasa kecil. “Anak perempuan yang ibunya bekerja, cenderung bersikap sama ketika dewasa. Anak-anak yang tetap merasa gembira dan bahagia meskipun para ibu mereka bekerja, cenderung berpikir bahwa anak-anak mereka pun, meskipun ditinggal bekerja, akan tetap gembira,” tegasnya. (berbagai sumber/ri) |
|
|
|
|
|
#2 |
|
Junior Member
User ID: 3632
Join Date: Jan 2009
Posts: 22
Thanks: 0
Thanked 0 Times in 0 Posts
![]() |
Bekerja atau tidak pada dasarnya wanita bekerja menurut saya sah-sah saja dan bagus, sejauh apa yang di kerjakan tidak mengganggu kodratnya sebagai seorang ibu rumah tangga.
kenapa begitu? ya...saya termasuk salut dengan namanya wanita, 1 otak tapi bisa mengerjakan beberapa hal sekaligus... Kaya mba Rini ini contohnya...hehehehe Tjandra Danny- Partner Dan Konsultan Bisnis Terbaik Anda |
|
|
|
|
|
#3 |
|
Member
User ID: 3426
Join Date: Jan 2009
Location: Jakarta
Posts: 76
Thanks: 0
Thanked 0 Times in 0 Posts
![]() |
waktu kuliah saya bercita-cita jadi wanita karier yang suksses karena ibu
saya juga wanita karier dan semua saudara perempuan saya juga begitu.. setelah menikah dan punya anak sampai 4.. ternyata saya sama sekali tidak bekerja kecuali mengurus rumah tangga.. hidup tergantung pilihan kita kok.. asal ikhlas menjalaninya buktinya banyak juga teman kuliah saya yang notebene sukses ternyata merasa iri dengan pilihan hidup saya.. dan yang bikin saya heran.. tidak sedikit orang yang menyangka kalau saya adalah wanita bekerja.. karena kebetulan saya suka sekali merawat diri saya walaupun umur sudah masuk kepala 4..banyak orang tidak menyangka saya sudah punya anak 4 dan sudah abg pula Last edited by nyna; 6th January 2009 at 07:52 AM. |
|
|
|
|
|
#4 | |
|
Senior Member
User ID: 564
Join Date: Sep 2008
Location: serang baru
Posts: 1,163
Thanks: 19
Thanked 5 Times in 5 Posts
![]() |
Quote:
|
|
|
|
|
|
|
#5 | |
|
Senior Member
User ID: 95
Join Date: Jul 2008
Location: JED,KSA
Posts: 366
Thanks: 0
Thanked 0 Times in 0 Posts
![]() |
Quote:
saya juga quit job setelah putra kedua saya berumur 1 tahun. Masalahnya kalo suami mampu dan ga mungkin kita menuntut sang suami untuk mengambil alih posisi kita merawat anak2 selama kita bekerja setelah ia sendiri juga lelah dg tugasnya, karena pada dasarnya ibu bukanlah tulang punggung keluarga dan suami tak pernah menuntut kita tuk bekerja. beruntunglah bagi yang mendapatkan pembantu/babycare yg baik atau ada keluarga yg merawat (walupun tak akan ada yg merawat putra/putri tercinta kita seperti kita sebagai ibunya)... tapi ambil juga pengalaman saya.. bagaimana rasanya kalo kita sudah lelah bekerja dan rela membagi gaji kita dengan pembantu tapi anak kita tak terawat baik bahkan mereka berani memukul anak2 kita? sakit sekali lho... jenuh sih pasti apalagi kalo baru beberapa bulan... tapi lama2 ternyata enjoy juga dg rutinitas baru hanya sebagai ibu rumah tangga... n yg pasti putra/putri kita lebih merasa bahagia... coba deh tanyakan pada putri/putri jeng sekalian... ![]()
__________________
ga neko2.. just want to be a good mom ![]() ![]()
|
|
|
|
|
|
|
#6 |
|
Senior Member
User ID: 2315
Join Date: Dec 2008
Posts: 749
Thanks: 1
Thanked 5 Times in 5 Posts
![]() |
waduh ternyata kalian adalah seorang ibu rt yang baik......,aku setuju banget kalau seorang ibu adalah di rumah,biar bisa melihat dan tau perkembangan anak2nya,mudah2han aku bisa mengikuti jejak kalian...
|
|
|
|
![]() |
| Thread Tools | |
| Display Modes | |
|
|